Tak Terurus, Gua Naga Jadi Tempat Mengoplos Miras

 

TALISAYAN- Hampir semua kampung yang ada di Kabupaten Berau berlomba mengembangkan setiap potensi yang memiliki nilai wisata dalam mendongkrak nilai ekonomi masyarakat di sekitarnya. Namun, banyak juga objek yang memiliki potensi wisata tetapi belum dikelola dengan baik. Misalnya saja keberadaan gua naga yang ada di Kampung Capuak Kecamatan Talisayan.

Padahal, keberadaannya yang strategis dan dekat dengan pemukiman seharusnya bisa menjadi wisata alam alternatif bagi pengunjung. Keberadaan gua tersebut sangat mudah diakses, hanya berjarak kurang lebih 100 meter dari poros jalan provinsi. Hanya saja kondisinya kurang terawat dan kerap disalahgunakan oleh oknum tertentu.

 

Di dalam gua tersebut banyak ditemukan bungkus obat batuk merek Komix yang kerap digunakan untuk membuat minuman keras, yang biasanya dicampurkan dalam dosis besar ke dalam sebotol minuman energi kratingdaeng. Tak hanya itu, sejumlah stalaktit yang ada di sekitar gua juga banyak yang patah dikarenakan tangan jahil.

 

Hariadi, salah seorang pengunjung mengatakan, keberadaan gua tersebut amat disayangkan jika tidak dikelola dengan baik. Apalagi dijadikan sebagai tempat yang tidak seharusnya.

“Sayang sekali tidak dikelola. Jika terlalu lama dibiarkan bisa jadi kondisinya semakin rusak, apalagi sepertinya tempat ini kerap dijadikan tempat mengoplos minuman dan mabuk-mabukan,” ungkapnya kepada beraunews.com.

Ia menilai, gua tersebut layak untuk dikembangkan menjadi objek wisata, seperti gua Luang Rimaung yang berada di Kampung Talisayan yang telah lebih dulu dikenal masyarakat. Apalagi keberadaannya yang mudah diakses dan tidak menyulitkan pengunjung.

“Bagus juga menambah daftar kunjungan ketika berkunjung ke pesisir selatan Berau, jadi tidak hanya wisata baharinya saja yang dikunjungi, wisata alamnya juga dikunjungi,” bebernya.

Sementara itu, Yahya pengunjung lainnya juga mengatakan hal senada. Menurutnya potensi yang bernilai wisata seperti gua Luang Naga amat disayangkan jika tidak dikelola atau dikembangkan. Mengingat saat ini, banyak kampung yang berlomba mengembangkan objek-objek yang dinilai memiliki daya tarik untuk berkunjung.

 

“Ini kan alami, dan saya rasa masih belum terlambat untuk dikembangkan. Daripada dibiarkan dan dijadikan tempat negatif, lebih baik dijadikan wisata. Jika sudah dirawat, orang pasti bakal mikir untuk berbuat negatif di sini," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: R. Amelia