Disbudpar Sebut Sistem Satu Pintu Kunjungan Wisata Menguntungkan

 

TALISAYAN – Wacana program kunjungan satu pintu untuk melihat objek wisata hiu tutul (whale shark) di Kampung Talisayan Kecamatan Talisayan, mendapat respon positif dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Mappasikra Mappaseleng.

Disampaikannya, apa yang direncanakan pihak Badan Usaha Milik Kampung (BUMK) Talisayan merupakan langkah cukup tepat demi memajukan objek wisata yang ada di kampung tersebut. Apalagi kata dia, dengan diberlakukannya sistem satu pintu, secara tidak langsung juga memberdayakan masyarakat lokal, serta meningkatkan pemasukan Pendapatan Asli Daerah (PAD), dan menambah kas BUMK, khususnya Kampung Talisayan.

Hal ini kata dia penting, mengingat sejauh ini, di sejumlah objek wisata yang di Kabupaten Berau, khususnya wisata bahari, masih banyak pengunjung yang datang melalui jalur daerah lain, atau misalnya saja Kaltara tanpa melalui yang seharusnya. Sehingga menyulitkan pihak pengelola untuk melakukan pendataan pengunjung. Akibatnya, sistem pengelolaan wisata yang dijalankan tidak berjalan maksimal.

"Saya kira wacana ini sangat bagus. Tapi perlu disusun dengan baik, agar rencana ini berjalan dengan lancar. Dan juga, pihak BUMK harus ada kerjasama dengan pihak travel. Jangan sampai, biaya untuk melihat hiu tutul ini lebih mahal ketimbang melalui jalur dari Kaltara," ungkapnya kepada beraunews.com, Rabu (10/05/2017).

Disamping itu, kendati ada pengunjung yang menempuh jalur laut baik itu dari Kaltara, atau dari wilayah lain perlu mendatakan diri ke pengelola setempat. Seperti halnya pengelolaan objek wisata danau dua rasa di Kampung Biduk-Biduk Kecamatan Biduk-Biduk, dimana setiap warga diwajibkan mendatakan diri ke pihak pengelola, guna bisa ke objek wisata dengan menggunakan motoris masyarakat lokal.

BACA JUGA : Mau Lihat Hiu Tutul, Harus Lewat Talisayan

"Jadi darimanapun jalurnya harus tetap sepengetahuan pihak pengelola, seperti sistem pengelolaan yang ada di Gorontalo. Disamping itu, wacana ini juga perlu mendapat dukungan dari pemerintah setempat agar program ini tidak jalan di tempat," bebernya.

Disamping itu, pihaknya juga berpesan, mengingat objek wisata tersebut tidak hanya merupakan aset Kampung Talisayan, namun juga merupakan aset Kabupaten Berau. Dirinya meminta, agar keberadaan hiu tutul tersebut dapat dijaga kelestariannya. Sebab, dengan interaksi secara berlebihan dapat membuat si hiu menjadi stress, dan merubah prilakunya menjadi agresif.

"Kita ingin pengunjung datang memiliki kesan positif tanpa mencederai atau membuat si hiu terganggu. Sehingga ketika hendak kembali berwisata ke Talisayan, tidak jera," tandasnya.(bnc)

Wartawan: Hendra Irawan/Editor: R. Amelia