‘Lesung Osap’, Wujud Syukur Suku Dayak Atas Rejeki dan Berkah dari Tuhan

 

SAMBALIUNG – Dalam kehidupan masyarakat suku Dayak Kenyah, terdapat berbagai macam tradisi dan budaya yang hingga saat ini masih terus dilestarikan oleh masyarakatnya. Termasuk tradisi adat dan kebudayaan pasca panen raya.

Di Kampung Bena Baru, Kecamatan Sambaliung, misalnya. Usai melaksanakan panen raya, sebagai wujud memanjatkan syukur kepada sang Maha Pencipta, masyarakat di kampung yang dijuluki Kampung Budaya tersebut, setiap tahunnya rutin menggelar sebuah acara kebudayaan yang dinamai dengan ‘Festival Lesung Osap’.

Menurut masyarakat lokal di kampung tersebut, perayaan usai panen raya memang dilakukan setiap tahun. Hal itu merupakan bentuk terima kasih mereka kepada Tuhan atas rejeki yang dilimpahkan, serta mengharapkan keberkahan atas rejeki yang mereka dapatkan tersebut.

Panen raya tersebut merupakan panen atas padi yang berbulan-bulan mereka tanam dengan peluh keringat demi menjadi nasi untuk menghidupi seluruh anggota keluarga. Maka tak heran dalam perayaan yang sebelumnya dikenal dengan pesta syukur panen tersebut, ditandai dengan tarian dari masyarakat suku Dayak, yang sarat akan makna atas proses menanam padi hingga menjadikannya makanan yang siap disajikan, seperti anye ontat (makanan khas suku Dayak, yang terbuat dari tepung beras ketan. Biasa disajikan pada pesta adat lainnya-red).

Dalam rangkaiannya, ada beberapa tarian yang melambangkan proses demi proses hingga panen raya tersebut. Diantaranya, pada tarian Bangen Tawai. Dalam tarian ini, digambarkan betapa sukacita dirasakan masyarakat usai sukses mengerjakan ladang mereka. Rasa senang tersebut merupakan ungkapan paling dalam yang dirasakan masyarakat suku Dayak, atas kesempatan yang diberikan Tuhan kepada mereka untuk dapat berkumpul bersama keluarga dalam mempersiapkan ladang. Juga rasa syukur atas kepemimpinan Tuhan yang mereka rasakan.

Usai Bangen Tawai, tarian Ponan Penega, menceritakan bagaimana gagah beraninya dua orang pemuda dalam memperebutkan seorang wanita cantik jelita, dan yang menang akan menikahi wanita tersebut. Tarian ini juga menggambarkan bagaimana perjuangan seorang lelaki dalam menggapai sesuatu yang diinginkannya.

Tarian Nglaem, yang juga dibawakan dalam festival tersebut, berhasil menyita perhatian pengunjung. Sebab dalam tarian tersebut, diceritakan bagaimana keperkasaan dan keberanian para lelaki dalam menghadapi berbagai gangguan yang menghadang di kehidupan dunia.

Pada tarian Oyan Oma, diceritakan bagaimana proses detil dalam pembuatan ladang dari menebas, menunggal, menanam, hingga menuai atau memetik.

Barulah Tarian Lesung Osap sebagai penutup dalam perayaan tersebut. Tarian Lesung Osap mengungkapkan proses membuat suatu bahan makanan tradisional Dayak, Anye Ontat. Untuk memperoleh makanan tersebut, dibutuhkan kerjasama yang dituangkan dalam suatu pekerjaan menumbuk di lesung osap atau lesung panjang dengan penuh kegembiraan, kebersamaan, dan penuh kegotongroyongan untuk mengubah beras menjadi tepung, sebagai bahan dasar Anye Ontat.

Dalam festival tersebut, Pjs Kepala Kampung Bena Baru, Yulius, mengatakan perayaan tersebut merupakan bagian dari harapan masyarakat kampung agar terus diberikan keberkahan, kemampuan, kemudahan, dan keberhasilan dalam setiap pekerjaan mereka. Ia juga mengaku perayaan tersebut merupakan perayaan yang tidak bisa lepas dari masyarakat suku Dayak. Sebab hal itu merupakan bagian dari identitas mereka sendiri.

“Semoga doa-doa yang dipanjatkan terkabul. Dan panen kita menjadi berkah untuk kita semua. Kita juga harus berupaya agar tradisi kebudayaan ini jangan sampai mati, maka khususnya kepada kaum muda kami minta untuk menjaga dan terus melestarikan adat istiadat kita ini,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia