Batu Lungun, Objek Wisata yang Terlupakan

 

KELAY - Berkunjung ke Kampung Merasa tak lengkap rasanya jika kita tidak menikmati keindahan alamnya. Mulai dari air terjun hingga ke universitas orang utan, yang menjadi salah sau icon wisata di kampung dengan jumlah penduduk mencapai 1.000 jiwa itu. Namun ternyata, selain kedua objek wisata unggulan itu, Merasa menyimpan objek wisata lain yang belum banyak diketahui masyarakat luas.

Masyarakat setempat biasa menyebutnya dengan objek wisata Batu Lungun atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan kuburan batu, hampir menyerupai objek wisata di Tana Toraja. Para wisatawan yang berkunjung ke lokasi ini akan melihat secara dekat tradisi masyarakat Dayak kuno yang menguburkan keluarga mereka di dalam gua yang berada di tebing Sungai Kelay.

Untuk dapat menikmati objek wisata ini, wisatawan harus menempuh perjalanan dengan ketinting kurang lebih 15 menit. Tak cukup sampai disitu, untuk masuk ke dalam gua, pengunjung harus merangkak melalui lubang kecil dengan diameter kurang dari 1 meter.

“Untuk menuju kesini memang cukup sulit karena benar-benar masih alami, belum tersentuh pembangunan sama sekali, belum ada tangga, belum ada apa-apa pokoknya. Cukup menantang,” ungkap Yudi Rizal, salah seorang wisatawan lokal yang megunjungi objek wisata Batu Lungun kepada beraunews.com, Selasa (03/01/2017).

 

Usai melawati jalan yang cukup sulit, pengunjung akan langsung menemukan mulut gua dengan ukuran cukup besar yang dipenuhi oleh peti mati kuno dengan ornamen khas suku Dayak. Di dalam gua ini terdapat lebih dari 5 unit makam kuno dengan usia hampir ratusan tahun, namun sangat disayangkan beberapa makam telah rusak akibat dicuri oleh orang tak bertangung jawab.

“Kemarin kondisinya masih utuh, tapi begitu saya kesini kedua kalinya, beberapa makam sudah rusak karena dijarah, isi di dalam makam seperti kalung dari batu permata dan sejumlah benda kuno lainnya juga hilang,” ungkap Paulinus, salah seorang warga sekitar.

Menurut Paulinus, keberadaan objek wisata ini sejatinya telah dilaporkan ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, bahkan hingga tingkat provinsi untuk mendapatkan perawatan hingga dapat dikelola dengan maksimal. Namun upaya Paulinus bersama warga kampung tak pernah mendapatkan respon positif.

“Kami sudah capek melaporkan wisata yang kami nilai sangat memiliki nilai jual tinggi ini. Tapi Disbudpar kabupaten dan provinsi tidak pernah merespon dengan alasan tidak punya biaya. Akibatnya, hampir 20 persen makam kuno rusak akibat dijarah orang, dicuri perhiasan yang ada didalamnya,” kesalnya.

“Saya berharap pemerintah lebih memperhatikan objek wisata ini, karena kalau dikembangkan pastinya ekonomi warga akan terbantu. Dan pemuda kampung otomatis memiliki penghasilan,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: M.S. Zuhrie/Editor: R. Amelia