Lagi Pengelolaan Wisata Dikeluhkan, Kini Giliran Hiu Paus di Talisayan

 

TALISAYAN – Keberadaan Whellshark (Hiu Tutul) yang ada di Kecamatan Talisayan sebagai objek wisata memang sudah terkenal luas. Tak jarang setiap hari libur panjang, cukup banyak wisatawan baik dari Berau maupun dari luar kabupaten datang ke Talisayan untuk melihat dan berenang bersama salah satu hewan mamalia terbesar di laut tersebut.

Namun, tak jarang keluhan demi keluhan juga datang dari pengunjung yang melihat potensi wisata yang kini telah menjadi salah satu kebanggaan Kabupaten Berau tersebut. Pasalnya, selain minimnya sarana transportasi, fasilitas pendukung lain seperti peralatan diving pun sepertinya juga belum ada. Akibatnya, banyak pengunjung menilai keberadaan hewan langka tersebut masih belum dikembangkan dan keberadaannya belum dimanfaatkan dengan baik.

Seperti yang diungkapkan salah seorang pengunjung Marcell. Wisatawan dari Bulungan, Kaltara tersebut menilai objek wisata hiu tutul tersebut masih banyak mengalami kekurangan. Pasalnya, tidak ada sama sekali pemberitahuan resmi dimana harus menyewa kapal, dan berapa tarifnya.

"Terpaksa harus tanya sana sini dulu. Ini kan jelas menyulitkan, apalagi kita juga baru kesini (Talisayan-red)," katanya kepada beraunews.com, Rabu (21/12/2016).

BACA JUGA : Kabar Gembira, Populasi Hiu Paus Meningkat 260 Persen

Ia mengaku salah satu yang disayangkannya adalah tidak adanya fasilitas diving untuk melihat hewan eksotis tersebut secara dekat.

"Ini yang amat kami sayangkan. Seharusnya ada peralatan diving harus ada untuk digunakan berinteraksi. Ya sayanglah pokoknya potensi sebagus ini, tidak dikelola dengan baik," bebernya.

Hal senada juga disampaikan Sukri, wisatawan asal Bulungan lainnya. Dikatakannya, alangkah baiknya potensi sebagus hiu tutul tersebut dikelola lagi dengan serius. Karena menurutnya, keberadaan hiu tutul tersebut merupakan aset yang cukup luar biasa, dan tidak semua daerah memiliki objek tersebut.

"Saya pikir pengembangannya masih setengah hati. Ini potensi luar biasa, dan masyarakat kampung dan pemerintah setempat harus memiliki strategi khusus untuk mengembangkannya. Jika dibiarkan begini terus, pengunjung pasti akan kecewa," pungkasnya.(Hendra Irawan)