Manfaatkan Objek Wisata Kepulauan Derawan, Berau Kalah Jauh Dari Kaltara

 

TANJUNG REDEB – Hingga saat ini, masih banyak wisatawan yang datang ke Kepulauan Derawan melalui Tarakan, yang berada di provinsi tetangga. Akibatnya, keuntungan yang seharusnya diterima Kabupaten Berau dengan adanya kunjungan tersebut, kini dimanfaatkan oleh Tarakan. Hal itu disampikan anggota Komisi II DPRD Berau, Muhammad Yunus saat melakukan kunjungan kerja ke Pulau Maratua beberapa hari lalu bersama Achmad Rijal, anggota Komisi II lainnya.

Disampaikan Yunus, sebenarnya sudah cukup lama pelaku bisnis di Tarakan memanfaatkan pulau-pulau wisata yang ada di Kepulauan Derawan untuk mencari keuntungan. Bahkan, Tarakan juga gencar mempromosikan Kepulauan Derawan untuk destinasi wisata, dan sudah menyiapkan konsep wisata yang telah tertata rapi. Paket wisata yang ditawarkan pun juga relatif lebih murah dari yang ditawarkan di Berau.

"Jadi mereka sudah menyiapkan segala sesuatu dengan baik, bahkan mereka juga telah menjual (promosi) dan menyampaikannya ke publik. Dengan kata lain, Tarakan lebih dulu memanfaatkan peluang ketimbang kita di Berau. Tentu saja ini sangat kita sayangkan," ungkapnya kepada beraunews.com baru-baru ini.

Apakah strategi promosi yang dilakukan Pemkab Berau selama ini kurang efektif, ditanya seperti itu, Yunus mengatakan, sebenarnya bukan soal strategi promosi kalah atau menang. Jika melihat upaya yang dilakukan Pemkab menurutnya itu sudah gencar.

"Namun, hal ini lebih kepada menangkap sebuah peluang," ujarnya.

Nah, jika kemudian muncul pernyataan, Tarakan telah mengambil sebuah keuntungan dari objek wisata di Kepulauan Derawan. Hal itu disebutnya wajar, sebab, Tarakan lebih punya peluang.

"Sekarang kita tidak bisa menyalahkan orang lain. Tetapi kedepannya, bagaimana peluang yang dimiliki Tarakan, Berau juga dapat keuntungan. Paling tidak minimal dari itu semua," jelasnya.

Menurutnya, ada banyak cara yang dapat dilakukan, salah satunya dengan memberlakukan sistem satu pintu. Artinya, ketika ada wisatawan yang hendak berwisata ke Kepulauan Derawan, mereka harus melalui jalur satu pintu, tentunya melalui jalur dari Kabupaten Berau selaku kabupaten pemilik objek wisata.

"Dan mereka yang ingin berwisata juga harus bayar pajak," ujarnya.

Hanya saja, sistem satu pintu yang juga sudah cukup lama diusulkan tersebut, hingga saat ini belum juga terlaksana. Hal itu lantaran belum adanya peraturan yang mengatur sistem tersebut.

"Sekarang begini, perdanya ada tidak, tidak mungkin langsung peraturan kampung. Jadi perda itu penting, dan sepengetahuan saya sampai saat ini, itu belum ada," tandasnya.(Hendra Irawan)