Gunung Tabur Diperjuangkan Jadi Cagar Budaya

GUNUNG TABUR – Nuansa kebudayaan asli Berau yang masih sangat kental dirasakan di Kecamatan Gunung Tabur, membuat daerah yang mayoritas dihuni suku Banua tersebut akan diperjuangkan sebagai kawasan cagar budaya. Hal itu disampaikan langsung Camat Gunung Tabur, Nazaruddin saat menghadiri upacara adat manguati banua, Senin (22/8/2016).

Banyaknya potensi yang mendukung kawasan tersebut menjadi cagar budaya, yakni dengan adanya keraton dan museum yang menyimpan banyak benda-benda bersejarah, mulai dari tempat tidur raja, pakaian asli raja sejak zaman dahulu, singgasana raja, hingga peralatan dapur dan benda-benda lain yang mempunyai nilai sejarah tinggi.

Selain itu, ada juga masjid tua Imanuddin yang biasa menjadi pusat kegiatan adat masyarakat setempat. Masyarakat yang masih memegang erat nilai kebudayaan dan adat istiadat setempat juga menjadi alasan ditetapkannya Gunung Tabur sebagai cagar budaya.

“Kita punya banyak potensi budaya, banyak sejarah Kabupaten Berau yang bisa digali dari sini,” ujarnya.

Selain untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan hingga generasi mendatang, penetapan Gunung Tabur menjadi cagar budaya juga merupakan pintu gerbang menarik wisatawan agar mau berkunjung ke Kabupaten Berau, terutama ke Keraton Gunung Tabur.

“Ini juga nantinya bisa menjadi daya tarik sendiri untuk Gunung Tabur, apalagi bagi mereka yang haus akan sejarah terutama sejarah Berau sendiri,” tambahnya.

Untuk menunjukkan dukungannya terhadap wacana penetapan Gunung Tabur sebagai kawasan cagar budaya, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Rohaini, mengaku siap membina Gunung Tabur.

Menurutnya, dengan potensi yang ada saat ini hanya diperlukan pengembangan saja. Baik itu rumah-rumah tua, masjid tua dan objek budaya lainnya. Namun mengingat banyak potensi wisata yang ada di Berau, maka pengembangan itu membutuhkan proses. Saat ini yang menjadi prioritas adalah pengembangan keraton Gunung Tabur

“Kita inventarisir, tapi mesti step by step, kita kembangkan satu per satu. Pada intinya Disbudpar sangat mendukung hal ini. Bagaimana kita mampu mendatangkan wisatawan setiap bulannya, atau bahkan setiap hari untuk mengunjungi cagar budaya ini,” tutupnya.(mta)