Manguati Banua, Wabup Minta Warga Doakan Berau Terhindar Dari Musibah Anggaran

GUNUNG TABUR – Acara adat manguati banua yang diselenggarakan Kerajaan Gunung Tabur bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, berlangsung hikmat pagi tadi, Senin (22/8/2016).

Kegiatan yang dihadiri Wakil Bupati Agus Tantomo dan beberapa kepala SKPD serta tokoh adat dan masyarakat setempat dilaksanakan di Keraton Gunung Tabur dan Mesjid Tua Imanuddin, kemudian dilanjutkan dengan berkeliling Kecamatan Gunung Tabur oleh para tokoh adat.

Upacara adat manguati banua yang dipimpin langsung oleh Ibrahim Istur, merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap tahun sebagai ajang membuang nahas atau sial yang dapat menimpa kampung dan masyarakatnya.

Dalam sambutannya, Wabup mengatakan, tak hanya sebagai ajang memanjatkan doa, kegiatan adat semacam manguati banua harus bisa menjadi potensi wisata untuk menarik wisatawan berkunjung ke Berau, khususnya Gunung Tabur, sebagai salah satu Kecamatan yang masih kental dengan adat istiadat dan kebudayaan asli Banua. Terlebih, Berau merupakan satu-satunya Kabupaten yang hingga saat ini masih berdiri dua kerajaan, yakni Gunung Tabur dan Sambaliung.

"Selain memanjatkan doa untuk keselamatan kampung dan masyarakatnya, ini juga bisa jadi tujuan wisata budaya, baik lokal maupun dari luar," ungkapnya.

BACA JUGA : Manguati Banua Positif Dilaksanakan Senin Depan

Menyinggung persoalan yang sedang merundung Berau, terkait pemangkasan anggaran yang cukup besar, Wabup juga meminta kepada seluruh masyarakat maupun tokoh adat yang melaksanakan upacara manguati banua untuk turut mendoakan Kabupaten Berau agar selamat dari musibah maupun bencana yang akan menimpa.

"Saat ini kita sedang menghadapi musibah besar, kita sedang menghadapi tsunami, anggaran kita menurun drastis. Jadi, saya sangat berharap manguati banua ini tidak hanya sekadar memanjatkan doa untuk kampung saja, tetapi lebih luas untuk Berau sendiri,” ujarnya.

Sementara Kepala Bidang Kebudayaan Disbudpar Berau, Saprudin Ithur mengatakan, diselenggarakannya upacara adat manguati banua tersebut menjadi salah satu simbol masyarakat Gunung Tabur dalam melestarikan kebudayaan yang menjadi turun temurun dalam kehidupan mereka.

Hal itu tidak bisa dilepaskan meski zaman semakin modern. Maka itu, setiap tahun terutama disaat momen peringatan hari jadi Kabupaten Berau dan Kota Tanjung Redeb, masyarakat Gunung Tabur selalu melakukan ritual buang nahas di Sungai Segah.

“Terkadang ada beberapa warga yang ingin rumahnya di adzani oleh tokoh-tokoh adat yang melakukan ritual manguati banua, tujuannya supaya terhindar dari marabahaya maupun bencana yang akan menimpa keluarganya,” jelasnya.(mta)