Banyak Pedagang Luar Meriahkan Mubes Uma Baha

KELAY – Pelaksanaan Musyawarah Besar (Mubes) suku Dayak Uma Baha yang dipusatkan di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay menjadi daya tarik tersendiri bagi sekolompok masyarakat, salah satu yang menjadi perhatian para peserta maupun tamu undangan adalah keberaadaan pelaku Usaha Kecil Menegah (UKM) milik warga yang berjajar dihampir sepanjang jalan kampung.

Menariknya, hampir seluruh pedagang yang hadir diacara mubes ini ternyata bukan masyarakat lokal, melainkan pedagang dari sejumlah kota besar seperti, Samarinda, Kutai Kartanegara, Kutai Barat hingga Kabupaten Malinau Kalimantan Utara.

Lijuk misalnya, pria 35 tahun yang telah berdagang pernak pernik khas suku Dayak selam 8 tahun belakangan ini mengaku sengaja datang dari Kutai Barat hanya untuk berdagang aksesoris khas dayak di Kampung Merasa.

“Saya dari Kutai Barat, kesini sudah dari hari Minggu, saya datang sama istri, kami memang suka berdagang di tempat acara seperti ini, selain kami jualan di Kutai Barat. Kalau ada acara seperti ini, pasti kami datang, biar jauh sekalipun selama bisa ditempuh pakai mobil kami datang berjualan.” jelasya saat berbincang dengan beraunews.com, Rabu (20/7/2016) kemarin.

Bukan hanya Lijuk, hal yang sama juga dilakukan Lia, pedagang aksesoris ini mengaku sengaja datang dari Malinau ke Merasa, selain untuk berdagang aksesoris, ia juga datang untuk bersilaturahmi degan keluarga besar suku Dayak Uma Baha yang hadir, menyusul mubes yang baru pertama kali dilaksanakan ini dihadiri dua negara sekaligus.

“Ini momen langka, jadi saya sama keluarga, bela-belain datang kesini selain untuk berjualan aksesoris khas dayak, kami juga mau bertatap muka langusng sama saudara- saudara kita yang dari Malaysia,” terangnya.

Untuk aksesoris yang diperjualbelikan, Lia tak memberikan harga mahal. Satu buah tas yang terbuat dari rotan dibandrol seharga Rp200 ribu, pernak pernik kalung, gelang serta topi khas dayak dibandrol mulai harga Rp50 ribu hingga Rp500 ribu. Sementara, untuk baju khas dayak dibandrol dengan harga Rp1 hingga Rp2 juta tergantung tingkat kesulitan saat pembuatannya.

“Pelaksanaan mubes ini cukup menarik minat wisatawan asing dan lokal, bukan hanya membawa berkah bagi Kampung Merasa karena kampungnya semakin dikenal, tapi juga membawa berkah bagi para pelaku ekonomi krratif seperti kita, karena dagangan kita laris manis,” tutup Lia.(msz)