Luapan Kerinduan Uma Baha di Merasa

KELAY – Ratusan peserta berkumpul menjadi satu dengan masyarakat kampung Merasa kecamatan Kelay, sejak Senin (18/7/2016) lalu. Mulai dari Suku Dayak Uma Baha dari Kampung Merasa, Tanjung Redeb, Long Boy, Long Beliu, Sido Bangen, Merapun, Lesan Dayak, Nyapa Indah,  Long Lanuk, Tumbit Dayak, Bena Baru, hingga Suku Dayak Uma Baha dari beberapa Kabupaten Kota seperti Bulungan, Samarinda, Mahulu, Kutai Timur, serta negara tetangga Serawak, Malaysia.

Yah, keluarga besar masyarakat Suku Dayak Uma Baha, melaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) yang pertama di Kampung Merasa, Kecamatan Kelay. Ajang ini, digagas selain sebagai wadah silaturahmi antar Suku Dayak Uma Baha, juga sebagai sarana diskusi mempertahankan budaya dan tradisi. Selain itu, juga dijadikan ajang menumpahkan kerinduan sebab ada yang puluhan tahun tidak bertemu setelah terpisah jalan mencari kehidupan masing-masing hingga ke negeri jiran, Malaysia.

Salah satu alasan menjadikan Kampung Merasa sebagai kampung terpilih untuk tempat pelaksanaan mubes adalah karena penduduknya yang mayoritas suku Dayak Uma Baha. Selain itu, kealamian kampung yang masih dipertahankan oleh masyarakatnya membuat jalannya mubes keluarga besar suku Dayak Uma Baha semakin terasa kental dengan nilai-nilai kulturalnya.

Kampung Merasa, merupakan salah satu kampung yang menjadi anak dari Kecamatan Kelay. Jarak tempuhnya, jika mulai start dari Kecamatan Tanjung Redeb, kurang lebih 90 menit dengan kecepatan rata-rata 60 hingga 70 kilometer per jam. Akses jalan menuju kampung yang terkenal juga dengan pesta adat meja panjang tersebut, saat ini sudah cukup nyaman karena sudah dihitamkan aspal. Meski ada beberapa lubang yang terkadang memaksa supir mengurangi kecepatan, namun lalu lintasnya juga cukup ramai. Mobil-mobil perusahaan, hingga truk bermuatan juga kerap melewati jalan menuju kampung tersebut.

Ketika memasuki kawasan Kampung Labanan, kita langsung disuguhkan pemandangan alam yang menakjubkan. Hamparan hutan, meski tidak selebat beberapa tahun silam, masih tampak ada harapan yang menggantung untuk anak-cucu generasi mendatang. Ratusan hektar lahan yang ditumbuhi tanaman kebun, kelapa sawit, seperti diatur barisannya menghiasi celah-celah hutan yang masih tersisa.

Begitu juga ketika memasuki kawasan Kampung Tumbit Dayak. Beberapa rumah warga dengan tanaman pangannya membuat persepsi mata yang melihatnya semakin menghargai betapa sebuah desa adalah tempat yang paling aman dan nyaman, jauh dari keramaian dan kebisingan kota.

Warna hijau tua lebih mendominasi, saat memasuki kawasan Kecamatan Kelay. Keindahan hutan disini bisa dibilang masih terjaga, dan selalu kita berdoa agar tetap terus terjaga hingga ratusan tahun berikutnya.

Hampir satu jam perjalanan, kalimat 'Selamat Datang di Musyawarah Besar Suku Dayak Uma Baha' akhirnya tampak juga. Dengan bekal poster yang sengaja dipasang diantara papan selamat datang di Kampung Merasa, tersisa sekitar 30 menit lagi perjalanan menuju balai desa, tempat dilaksanakannya Mubes Suku Dayak Uma Baha.

Saat memasuki kawasan Kampung Merasa, sebagian jalan memang belum diaspal. Bahkan, beberapa titiknya bisa dibilang cukup rawan dan berbahaya, khususnya bagi pengendara roda dua. Namun, ketika hampir sampai ke kampung tersebut, kita bisa menemukan aspal kembali.

Setelah perjalanan menemui sebuah jembatan gantung, yang dibawahnya mengalir sungai Kelay, serta pemandangan yang begitu menawan dari hutan-hutan yang berada disekitar kampung tersebut, mulai terdengar alunan musik khas Suku Dayak yang membuat penat diperjalanan cukup terbayarkan.

"Kami sangat-sangat bahagia karena Musyawarah Besar pertama kali ini dilaksanakan di Kampung kami tercinta, Kampung Merasa. Kami bangga, keluarga besar Suku Dayak Uma Baha bisa bertemu dan bersatu dalam acara yang tidak lain tidak bukan tujuan utamanya ini adalah menguatkan kita sesama Suku Dayak Uma Baha," kira-kira seperti itu deretan kalimat yang dilontarkan salah satu perwakilan Kampung Merasa, sebagai tuan rumah mubes tersebut, dalam pidato pembukaan.

"Semoga kita bisa memetik makna dan manfaat yang tersisa dalam perjumpaan kita dengan saudara-saudara kita," tambahnya seraya menutup pembicaraan di atas mimbar yang terdapat di balai kampung tersebut.

Ratusan peserta mubes, dari yang muda hingga yang tua, berkumpul menjadi satu. Tampak begitu indah saat segala macam perbedaan disatukan dengan rasa cinta dan kasih sayang sesama suku mereka. Begitu juga barisan tamu-tamu undangan yang ditempatkan paling depan, seperti Bupati, Wakil Bupati, Kepala Kampung, Aparat Keamanan, beberapa Kepala SKPD, dan lain-lain. Semua larut dalam kebahagiaan perjumpaan dengan saudara-saudara mereka.

Ada ritual khusus yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam menyambut kedatangan pemimpin daerah di kampung mereka, yakni dengan memberi segelas air putih kepada pemimpin daerah (Bupati-red). Hal itu yang dilakukan tokoh adat setempat kepada Muharram. Dengan berbekal sebuah gelas yang terbuat dari potongan bambu, Muharram kemudian meminum air putih yang difilosofikan sebagai air kesucian, agar sang pemimpin mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya.

Melalui ritual di mubes tersebut, tentunya masyarakat juga besar harapan kepada sang kepala daerah agar dapat membawa mereka menuju kehidupan yang lebih baik dalam setiap segi kehidupan.

"Melalui acara mubes ini kita dipertemukan, baik dari Suku Dayak Uma Baha yang tersebar di Kalimantan Timur, hingga yang datang jauh-jauh dari Malaysia. Luar biasa kekompakan suku ini, saya turut bangga bisa menghadiri sekaligus membuka mubes ini," begitu kata Bupati Berau, Muharram, sesaat sebelum diberi kesempatan untuk memukul gong sebagai tanda resmi dibukanya mubes Suku Dayak Uma Baha.

Orang nomor satu di Bumi Batiwakkal itu sempat menyampaikan beberapa visi dan misinya terkait pembangunan daerah melalui daerah terpencil. Ia juga sempat menyinggung beberapa persoalan yang umumnya terdapat di tengah-tengah masyarakat kampung, yakni rendahnya angka pendidikan anak dan pola pikir yang masih berprioritas kepada hal-hal yang sifatnya jangka pendek.

Usai mendengarkan pidato dari Bupati Berau, segenap tamu undangan dan peserta mubes dihibur dengan tarian daerah Suku Dayak Uma Baha. Tampak raut gembira dan senyum bahagia dari beberapa gadis yang membawakan tarian tersebut. Penonton tak kalah senang disuguhkan tarian indah yang berlangsung kurang lebih 5 menit.

Setelah mubes resmi dibuka oleh Bupati, peserta mubes dan para tamu undangan dipersilahkan untuk menyantap makan siang dan foto bersama. Musyawarah dilakukan pada sore hari. Dalam musyawarah tersebut, tidak hanya sekadar memilih pimpinan adat yang baru, namun keluarga besar Suku Dayak Uma Baha juga menyiapkan program kerja untuk pimpinan periode selanjutnya.(mta)