Manguati Banua Akan Diadakan Lebih Meriah

 

TANJUNG REDEB – Berau tak hanya kaya potensi alam dan tempat wisata saja, bahkan pesona budaya unik yang dibawakan suku-suku yang bedomisili di Berau bisa menjadi daya tarik wisatawan, salah satunya, Menguati Banua (mengobati kampung). Gelaran budaya suku Banua ini merupakan tradisi bernuansa Islami, yang bertujuan memohon kepada Allah untuk menghindarkan daerah dari segala bencana alam serta menghindarkan dari berbagai penyakit menular yang rentan terjadi.

Pagelaran budaya tersebut akan kembali digelar dalam waktu dekat ini dengan melibatkan para pelajar dan dipastikan akan berlangsung lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dikatakan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) melalui Kepala Bidang Kebudayaan, Saprudin Ithur.

Dikatakan Saprudin, konsep acara budaya asli peninggalan adat Kerajaan Gunung Tabur tersebut tidak jauh dengan acara buang naas yang dilakukan suku Bajau yang ada di daerah pesisir. Jika di daerah pesisir acara buang sial atau buang naas dilakukan dengan cara mandi-mandi di laut, maka Menguati Banua ini dilakukan di sungai.

“Buang sial ala warga Banua ini sendiri nantinya air yang sudah dibacakan doa yasin dibawa ke hulu sungai dan ditumpahkan langsung ke sungai dengan harapan semua air tersebut bisa mengalir ke bawah. Jadi air itu nanti bisa digunakan oleh semua orang yang artinya warga yang menggunakan air sungai bisa bersih setelah menggunakan air sungai. Acara adat tahunan ini akan diadakan bulan Agustus mendatang,” ungkapnya saat ditemui beraunews.com.

Sebelum menuju ke sungai, para warga terlebih dahulu berkumpul di masjid tua yang ada di Kecamatan Gunung Tabur dan puncak acara tersebut akan dilakukan di rumah pemangku adat kesultanan Gunung Tabur. Acara diawali do’a bersama oleh pegawai 12 atau yang disebut petugas mesjid, diantarannya 4 orang Imam, 4 orang Khatib dan 4 orang Bilal yang mengelilingi kampung-kampung yang rawan terhadap bencana alam, kecelakaan serta rawan terhadap wabah penyakit menular. Di setiap kampung yang rawan bencana alam tersebut dilakukan azan bersama untuk menjauhkan dari segala cobaan.

“Menguati Banua ini merupakan acara adat bernuansa Islam karena bacaan yang digunakan merupakan ayat Al-Qur’an dibawakan oleh petugas masjid yang disebut pegawai 12. Upacara ini ikhtiar manusia, namun yang berkehendak adalah Allah semata. Tahun ini akan diselenggarakan lebih meriah, agar yang menyaksikan pesta budaya kita ini lebih luas dengan melibatkan para pelajar,” pungkasnya seraya berharap agar kedepannya acara budaya ini bisa menjadi wisata bagi masyarakat luar dan mampu menyedot wisatawan sebagimana halnya gelaran budaya-budaya daerah lain diluar Berau.(ea)