Budaya Buang Nahas, Nilai Kearifan Lokal yang Harus Dijaga

 

TALISAYAN – Dari seluruh rangkaian Expo Talisayan, akhirnya, Rabu (15/11/2017) sekitar pukul 09.00 Wita, dilaksanakan acara budaya tulak bala atau buang bahas. Kegiatan tersebut merupakan acara puncak yang ditandai dengan pemandian dengan daun linjuang kepada 12 anak.

Acara yang diselenggarakan setahun sekali tersebut berlangsung meriah dan tertib. Berbagai pertunjukan kesenian pun ditampilkan guna menghibur masyarakat yang hadir. Seperti diketahui, buang nahas atau tulak bala merupakan pesta budaya terbesar di wilayah pesisir selatan Berau.

Camat Talisayan, David pamudji kepada beraunews.com mengatakan, acara adat tolak bala merupakan acara adat masyarakat Kabupaten Berau sebagai ungkapan rasa syukur. Disamping itu, juga merupakan permohonan kepada Tuhan agar selalu diberikan kepada perlindungan bagi masyarakat Kabupaten Berau, khususnya warga Talisayan.

"Nilai kearifan lokal ini harus dilestarikan, dan semakin dipupuk sampai ke generasi muda," jelasnya.

Disamping itu, dengan kegiatan tersebut, menurutnya, dapat menumbuhkan rasa kebersamaan dan menyatukan tekad dalam membangun Kecamatan Talisayan menjadi lebih baik lagi kedepannya.

"Harapan kita kedepannya, bersama masyarakat dalam membangun masyarakat," ujarnya.

Kedepannya, buang nahas yang dirangkai dengan Expo Talisayan ini akan dikemas lebih meriah dan kreatif lagi. Sehingga Expo Talisayan dikenal lebih luas lagi. Terutama, dalam mempromosikan potensi 10 kampung di wilayah Kecamatan Talisayan, baik perikanan, pertanian perkebunan, pariwisata, hingga UMK atau industri kecil untuk dapat dikembangkan di tingkat kabupaten maupun tingkat nasional.

"Ini yang kita harapkan kedepannya dapat terwujud," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Berau, Mappasikra Mappaseleng, mengaku dirinya tidak pernah ketinggalan acara buang nahas di Talisayan. Menurutnya, kegiatan tersebut sebagai sebuah peristiwa yang mampu membangun solidaritas, dan merekatkan kebersamaan warga.

"Ini (buang nahas-red) adalah peristiwa budaya yang sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat Talisayan yang semakin heterogen," ungkapnya.

Secara tidak langsung, lanjut dia, masyarakat Talisayan memperlihatkan, dari generasi ke genarasi momen budaya tersebut tetap terjaga.

"Saya sangat bangga, dan berbahagia, karena tahun ini masih bisa menyaksikan peristiwa buang nahas seperti saat pertama kali saya melihatnya belasan tahun silam," tandasnya.(Hendra Irawan/bnc)