Manugal, Masih Ingat Tradisi Petani Masyarakat Berau Ini?

 

TANJUNG REDEB – Mungkin hanya sebagian masyarakat Berau yang mengetahui tradisi para petani yang satu ini, yaitu Manugal. Manugal adalah salah satu tradisi adat para petani di Kabupaten Berau, yang dilakukan setiap akan membuka suatu ladang pertanian.

Tradisi ini dikomandoi oleh salah satu pemimpin yang diberi sebutan kepala ladang. Diceritakan Ketua Lembaga Adat Babada, Fahrul Udin, masyarakat bahari atau masyarakat asli Berau melakukan prosesi adat ini dengan cara melihat kondisi lahan, apakah lahan yang ingin digunakan tersebut berlumpur atau banyak terdapat rumput.  Jika lahan tersebut banyak didominasi rumput, maka akan dilakukan prosesi merumputi, atau membersihkan rumput yang terdapat di sekitar ladang yang ingin dibuka.

Kemudian prosesi selanjutnya adalah membuka lahan dengan cara membakar sebagian hutan yang ingin dibuka menjadi ladang pertanian yang telah dibersihkan tadi. Tetapi, tentu cara membakarnya pun tidak sembarangan.

“Dahulu orang Berau asli, membakar hutan tidak akan merusaknya, karena ada tata caranya, yaitu jarak ladang yang berada di pinggir hutan atau yang mendekati hutan, itu diberi batasan berupa ranting-ranting kayu untuk menutupi jalannya api, supaya tidak merembet ke dalam hutan,” ucap Fahrul Udin, kepada beraunews.com, Senin (15/05/2017).

Tradisi Manugal tersebut, oleh sebagian masyarakat dikatakan merusak hutan. Justru statement ini adalah pendapat yang salah.

“Sejak dahulu, saat masyarakat Berau asli ingin membuka lahan dengan tradisi Manugal, tidak ada yang namanya kebakaran hutan, karena cara membakarnya tidak sembarangan. Kami melihat arah mata angin, jika misal, saat membakar dari kiri arah anginnya menuju hutan, maka membakarnya dari arah yang sebaliknya.

Sebaliknya, Fahrul Udin juga mengatakan, tradisi Manugal ini dapat menyuburkan hasil pertanian, karena benih-benih petani dapat subur karena bekas bakaran tadi, sekaligus juga dapat memberikan penghasilan yang berlimpah untuk para petani, karena lahan yang digunakan untuk menanam padi sangat luas.

“Dampak positif dari tradisi ini adalah, terjadinya silaturahmi yang kuat, lalu kerja sama juga semakin erat karena gotong royong tadi, sehingga tidak akan terjadi masalah,” tambah Fahrul Udin.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia