PT TRH Bakal Realisasikan Pembangunan Rumah Adat Suku Asli Berau

 

TANJUNG REDEB – Rencana PT Tanjung Redeb Hutani (TRH) membangunkan rumah adat suku asli Kabupaten Berau yakni, Banua, Bajau dan Dayak (Babada), disambut sangat baik.

Bahkan, Ketua Lembaga Adat Babada, Fahrul Udin pun, secara khusus mengucapkan terima kasih atas niat baik PT TRH, khususnya kepada Taufik Waligar selaku Direktur Produksi di perusahaan tersebut, yang dikatakannya telah memberikan perhatian sangat besar kepada ketiga lembaga tersebut, dalam rangka melestarikan seni budaya suku asli Kabupaten Berau.

“Kami mengucapkan ribuan terima kasih kepada PT TRH yang berniat melakukan pembangunan sekretariat bersama untuk ketiga lembaga adat,” ucap Fahrul Udin, saat menyambangi beraunews.com, Sabtu (13/05/2017).

Awalnya, dikatakan Fahrul Udin, rencana pembangunan rumah adat tersebut akan dilakukan bekerjasama dengan salah satu perusahaan tambang yang memasang spanduk populer, tetapi setelah melihat perilaku, bahkan juga telah terjadi gesekan, pihaknya berpikir dua kali.

“Melihat keadaan yang ada, bisa saja nanti jika kita mengajukan proposal permintaan bantuan, yang ada malah mereka nanti tidak tertarik,” ucapnya tanpa mau menjelaskan gesekan yang terjadi.

Rencananya, rumah adat ketiga suku itu akan dibangun di Jalan Sultan Agung, dimana tanah dan bangunannya, murni berasal dari pihak PT TRH.

“Rencana ke depannya, bangunan adat tersebut akan digunakan lembaga Babada untuk menampilkan adat dan budaya-budaya asli Kabupaten Berau, yaitu Banua, Bajau dan Dayak. Seperti salah satu contohnya, kami akan menampilkan adat budaya nelayan orang Banua terdahulu, alat-alat yang digunakan untuk melaut. Itulah yang akan kami tampilkan di situ, seperti jala, ambau, seruyuk, dan tajur. Juga adat istiadat suku Dayak dan Bajau yang lambat laun juga sudah tidak dikenal lagi oleh generasi sekarang,” sambungnya.

Dengan pendapat tersebut, Ketua Lembaga Adat Babada, juga sedikit menyindir dengan fenomena nelayan yang sering terjadi sekarang, dimana semakin berkembangnya zaman, semakin berkembang juga alat penangkap untuk memperoleh ikannya.

“Kalau sekarang kan untuk memperoleh ikan kebanyakan menggunakan setrum dan racun,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia