Yuk, Mari Telusuri Peninggalan Bersejarah di Museum Batiwakkal

 

GUNUNG TABUR – Museum Batiwakkal menyimpan cerita mengenai kerajaan Berau. Museum ini juga merupakan renovasi ulang dari bentuk asli Keraton Gunung Tabur. Yang membedakan hanya pembuatan serta skala luas bangunannya.

“Keraton Gunung Tabur berdirinya di sini, kemudian dibangun ulang 90 persen, dibuat sama dengan bangunan aslinya, dan akhirnya menjadi Museum Batiwakkal,” ucap Staf Edukasi Keraton Gunung Tabur, Mutiara, ketika ditemui di beraunews.com, Rabu (03/05/2017).

Untuk bangunan aslinya, telah hancur pada bulan Juni 1945, dan selama proses pembangunan Museum Batiwakkal, pemerintah membangun rumah sementara untuk tempat kediaman keluarga kerajaan, yakni yang berada di sisi kiri keraton jika dilihat dari depan gerbang.

Itulah asal mulanya mengapa masyarakat Berau menyebut Museum Batiwakkal sebagai Keraton Gunung Tabur, karena saat perencanaan ulang museum, keluarga kerajaan bertempat tinggal di sampingnya, sehingga meyebabkan warga-warga khususnya daerah Berau menganggap Keraton Gunung Tabur masih berdiri.

Sejarah singkat mengenai Keraton Gunung Tabur sendiri adalah, pecahan dari kerajaan Berau yang bermula dari adanya keinginan kedua putra mahkota Aji Pangeran Tua dan Aji Pangeran Dipati, yang sama-sama ingin menduduki bangku kerajaan. Pada awalnya masih belum pecah, hanya pergantian keturunan dari Aji Pangeran Tua dan keturunan dari Pangeran Dipati. Tetapi kemudian, saat adanya adu domba, perang dingin pun terjadi di wilayah keraton. Untuk menghindari konflik tersebut, akhirnya kerajaan dibagi dua yaitu Gunung Tabur dan Sambaliung.

Kerajaan Berau sendiri melambangkan warna kuning sebagai simbol kerajaan, tetapi tahukah anda mengapa baju Sultan bahkan permaisuri berubah menjadi seperti ciri khas baju Jawa, yakni berwarna hitam dengan motif di pinggiran bajunya berwarna kuning? Awal mulanya adalah adanya percampuran dua kebudayaan yaitu Solo yang dibawa oleh istri dari Sultan Siranuddin.

Keraton Gunung Tabur sendiri memiliki lambang kerajaan berbentuk bulat dengan diameter 50cm, dengan bingkai besi putih. Lukisan 2 macan, mahkota, gong, senjata, huruf SGT, dan lingkaran padi, yang melambangkan keperkasaan, kekuasaan, kebesaran, kebudayaan, dan kemakmuran.

Singkat cerita, pada tahun 1960, sistem pemerintahan swapraja diubah menjadi sistem pemerintahan kabupaten. Maka, pada tanggal 9 Oktober 1960, Aji Raden Muh Ayoeb dilantik menjadi Bupati pertama Kabupaten Berau. Peninggalan-peninggalan pada zaman kerajaan pun bisa dijumpai di Museum Batiwakkal.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia