Hilangkan Roh Jahat Melalui Barongsai

 

TANJUNG REDEB – Perayaan Tahun Baru Imlek, rasanya kurang lengkap jika tidak ada atraksi Barongsai. Berdasarkan kepercayaan tradisional masyarakat Tionghoa, singa adalah simbol keberanian, stabilitas, dan keunggulan. Tarian tradisional memakai kostum menyerupai singa disebut pula sebagai Barongsai.

Karena dipercaya sebagai lambang kesuburan, kebaikan dan kesejahteraan, Barongsai selalu menjadi tradisi tontonan yang menarik bagi masyarakat setiap perayaan Tahun Baru Imlek.

Tabuhan gendang tambur dan simbal mengiringi setiap gerak replika naga (liong), singa dan qilin (binatang bertanduk) selalu menyertai dalam setiap pertunjukannya. Konon, tarian Barongsai dilakukan untuk mengusir hantu, roh-roh jahat seperti Nian (monster) karena takut dengan suara keras.

Atas dasar itulah, Persatuan Liong dan Barongsai Seluruh Indonesia (PBLSI) Berau, menggelar pertunjuakan Barongsai keliling Tanjung Redeb untuk menghibur warga Berau.

Ketua Panitia Pelaksana Hendra mengatakan, kegiatan ini digelar setiap tahun sesudah tahun baru imlek dan sebelum puncak perayaan cap go meh. Umat Tionghoa meyakini, berongsai sebagai sarana pembersih dari gangguan roh jahat serta memberikan keberuntungan bagi pemilik rumah yang dikunjungi barongsai.

“Barongsai itu salah satu binatang yang dikeramatkan oleh umat kami, sehingga dari nenek moyang kami sampai sekarang diyakini dengan kehadiran barongsai ke rumah penduduk akan membawa keberuntungan dan membersihkan dari hal-hal buruk,” ungkapnya kepada beraunews.com, Rabu (01/02/2017).

Menurutnya, Barongsai selalu hadir dalam perayaan Imlek untuk mengusir monster yang diibaratkan sebagai mengusir aura-aura buruk. Oleh sebab itu, tarian singa diadakan pada berbagai acara penting. Tak hanya saat Imlek, tetapi juga saat pembukaan restoran, pendirian kelenteng.

Tarian Barongsai menggabungkan seni, sejarah, serta gerakan kungfu. Biasanya para pemain kungfu dan sekompok penari singa terdiri dari sekitar sepuluh orang. Pelengkap tarian Barongsai adalah suara kembang api.

Suara pukulan simbal, gong, dan gendang biasanya menyertai adegan semarak ini. Setiap gerakan singa, punya irama musik khusus. Musik mengikuti gerakan singa, suara drum mengikuti singa, sementara simbal dang gong mengikuti pemain gendang. Saat pertunjukan Barongsai, biasa banyak warga memberikan angpao dengan berharap bisa mendapatkan keberuntungan.

Sementra itu, kehadiran barongsai yang berkeliling Tanjung Redeb ini rupanya mampu menarik perhatian sejumlah masyarakat yang melintas dan menyaksikan lebih dekat, bahkan banyak dari pengendara yang takut kehilangan momen langka ini nekat melakukan selfi.

“Aksi barongsai keliling Tanjung Redeb ini dilaksanakan hanya satu hari, yakni mulai pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita, walau sebetulnya ini rangkaian dari tahun baru umat Tionghoa, tapi kami tidak menutup diri bagi masyarkat yang mau berfoto bersama pemain barongsai,” imbuhnya.

Sementara Meymey warga sekitar Jalan Niaga mengatakan, atraksi barongsai sangat menghibur warga, sebab untuk menikmati pertunjukan barongsai seperti ini menurutnya memerlukan waktu satu tahun lagi.

“Seru dan sangat menghibur, walaupun saya bukan keturunan Tionghoa namun saya menikmati atraksi barongsai tadi karena tidak setiap hari ada,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: M.S. Zuhrie/Editor: R. Amelia