Pegawai Imigrasi Kenakan Pakaian Adat Berau, Kenapa Ya?

 

TANJUNG REDEB – Ada yang berbeda pada suasana layanan Kantor Imigrasi Kelas III Tanjung Redeb, Senin (17/10/2016). Seluruh pegawai mengenakan pakaian adat Berau yang identik dengan warna kuning. Bahkan, Kepala Kantor Imigrasi, Erwin Hariyadi turut mengenakan baju khas Bumi Batiwakal itu. Menurutnya, pakaian adat Berau ini akan dikenakan pegawainya hingga 28 Oktober mendatang.

“Kami juga ingin berpartisipasi mengangkat budaya lokal yang ada di Berau, salah satunya dengan menggunakan pakaian adat Berau pada saat memberikan pelayanan kepada pemohon yang datang,” ujarnya.

Mulai dari pegawai yang menerima pendaftaran hingga petugas foto paspor menggunakan pakaian adat Ampik Selayang, yang merupakan pakaian adat untuk pengantin Berau. Nuansa kuning membuat sejumlah pemohon paspor yang datang ke Kantor Imigrasi di Jalan Mangga II sedikit heran.

Menjawab pertanyaan pemohon, Erwin menejelaskan, pihaknya sengaja menggunakan pakaian adat Berau dalam rangka HUT Dharma Karyadhika.

“Ini berlaku secara nasional pada seluruh kantor layanan Imigrasi se-Indonesia, untuk menggunakan pakaian adat lokal tempat bertugas. Ini pakaian adat Berau, jadi masyarakat Berau juga jangan sampai lupa dengan salah satu budaya ini karena ini merupakan identitas daerah kita,” jelasnya lagi.

 

Selain itu, dijelaskannya pula, dalam rangka Dharma Karyadhika ini, ada beberapa instruksi dari Kementerian Hukum dan HAM pada aspek pelayanan kepada masyarakat. Tema pelayanan dan penegakan hukum pasti nyata, dicerminkan dalam gerakan serentak empati layanan paspor dan penegakan hukum keimigrasian.

Bentuk empati dilakukan dengan memberikan pelayanan prima kepada seluruh pemohon yang datang. Termasuk dengan meniadakan percaloan pada layanan Imigrasi sesuai perintah menteri. Dengan demikian, apa yang menjadi target layanan prima bisa terpenuhi.

“Untuk pakaian adat ini adalah bentuk empati kami terhadap budaya lokal di Berau ini, citra diri, identitas masyarakat Berau yang harus dijaga jangan sampai hilang,” tandasnya.(M.S. Zuhrie)