Kecelakaan Speedboat Bulungan-Tarakan Beberapa Kali Telan Korban, Netizen : Standar Keselamatan Jauh dari Harapan

 

TANJUNG REDEB – Kecelakaan speedboat route Bulungan-Tarakan dan sebaliknya, telah beberapa kali terjadi. Dua yang teranyar, dialami Speedboat Anugerah Ekspres yang bertolak dari Tanjung Selor ke Tarakan, Senin (01/01/2018) sekira pukul 08.40 Wita, dan Speedboat Reguler SB Rejeki Baru Kharisma, Selasa (25/07/2018).

Dalam kecelakaan terakhir, warga Berau bahkan turut menjadi korbannya, yakni Felisa dan Natasya, kedua warga Jalan AKB Sanipah Tanjung Redeb. Lalu, bagaimanakah sebenarnya menurut warganet terkait keamanan alat transportasi speedboat route Bulungan-Tarakan tersebut?

Pertanyaan yang diajukan beraunews.com ini, langsung mendapat puluhan tanggapan dari warganet, dimana mayoritas menilai standar keamanan dan keselamatan masih jauh dari harapan dan masih sering diabaikan. Misalnya seperti disampaikan warganet dengan akun bernama Dede Suriyadi. Dikatakannya, setiap berangkat penumpang selalu penuh dan berdesakan. Sangking penuhnya, terkadang saya malah tidak nyaman untuk mencari tempat duduk lagi, karena tidak ada tempat.

“Pelampung tidak diarahkan untuk digunakan, bahkan pernah di salah satu speedboat tidak nampak ada pelampungnya, padahal harusnya mudah terlihat dan diambil saat terjadi kecelakaan,” ujarnya.

Warganet dengan akun bernama Misbah Abdulkarim juga mengatakan senada. Dikatakannya, keamanan alat transportasi speedboat route Bulungan-Tarakan masih sangat riskan.

“Pelampung saja sering kurang lengkap jumlahnya,” tulisnya singkat.

“Sangat buruk. Kalau mau pembenahan, pihak swasta yang ambil alih, bukan swasta perorangan tapi berbadan hukum perusahan skala besar,” tulis akun Hijau Moeda New.

“Body speedboat-nya itu nah mas, ngeri, tertutup jendela kaca, kecil lagi. Yang terbuka hanya bagian belakang dan ada lubang di atas setir cukup buat satu orang,” ujar akun Rafiqah Duri.

“Kupas tuntas om, demi kebaikan pengguna jasa dan masyarakat Berau pastinya. Jangan ada lagi kecelakaan yang disebabkan faktor Human Error,” imbuh akun Do Weh.

"Selain ketersediaan jaket pelampung dan jumlah penumpang harus sesuai, yang jadi masalah dengan speedboat Bulungan-Tarakan adalah desainnya yang tertutup ditambah dengan kondisi kursi yang sangat sempit. Sehingga saat kecelakaan, banyak korban yang tidak bisa keluar karena terhalang kursi dan bodi yang tertutup tersebut," tutur akun Suriansyah M.

Tampaknya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara hingga Pemkab/Pemkot setempat harus ekstra ketat dalam melakukan pengawasan terhadap alat transportasi satu ini.(Miko Gusti Nanda/bnc)