Blasting Tambang Batubara Site SMO Dikeluhkan Warga

 

TELUK BAYUR – Warga RT 02, 04, 08, dan 10, Kelurahan Rinding, Kecamatan Teluk Bayur mengeluhkan blasting (peledakan) yang dilakukan kontraktor perusahaan PT Berau Coal yakni PT Saptaindra Sejati (SIS) dan PT Dyno Nobel Asia Pasific (DNX) Indonesia untuk menambang batubara. Penambang itu dilakukan di Site Sambarata Mine Operation (SMO) yang berada tepat diseberang Kelurahan Rinding.

Keluhan itu untuk kesekian kali disampaikan kepada managemen PT SIS. Alhasil, digelar pertemuan antara warga dengan managemen PT SIS dan PT DNX Indonesia. Terlihat hadir dilokasi pertemuan, yakni Ketua LPM Kelurahan Rinding Hasan, Ketua Forum RT Kelurahan Rinding Abdul Wahab serta Ketua RT 04, 08, dan 10 Kelurahan Rinding yaitu Ahmad Sihotang, Dwiyono dan Sugianto. Dari perwakilan PT SIS dan PT DNX Indonesia yakni Manager HRD PT SIS site SMO, Fadli dan Teguh selaku Penanggungjawab Operasional PT DNX site SMO.

Salah seorang warga RT 08 Kelurahan Rinding, Edy Santosa mengungkapkan, peledakan yang dilakukan perusahaan tambang batubara di site SMO telah sangat mengganggu aktivitas warga dan telah lama dirasakan. Mengingat, jarak antara pemukiman warga dengan lokasi pertambangan batubara itu hanya berjarak kurang lebih 600 meter.

Dampak yang dirasakan warga Kelurahan Rinding atas aktivitas pertambangan itu, lanjut Edy, juga telah beberapa kali disampaikan dalam berbagai forum dan pertemuan. Namun, hingga saat ini belum juga menemukan jalan keluarnya.

“Jadi responnya sangat lamban,” ungkapnya saat ditemui beraunews.com usai menggelar pertemuan dengan managemen PT SIS dan PT DNX Indonesia, Senin (2/1/2017) siang.

Terkait dampak dari kebisingan maupun getaran yang ditimbulkan dari aktivitas blasting, tambah Edy, secara fisik dapat dilihat dari beberapa kondisi rumah warga yang mengalami retak dan sebagainya. Selain itu, bagi Edy, dampak yang paling berpengaruh ialah pada kondisi psikis dan kesehatan keluarganya, khususnya anak yang dimilikinya.

Sebab, akibat sering merasakan getaran dan suara blasting yang cukup kencang itu, anak-anaknya mengalami trauma secara psikis. Seperti, kadang merasa kebingungan yang disertai rasa takut dan sebagainya.

“Terkait dengan kerusakan, baik kerusakan fisik yaitu bangunan juga banyak (retak). Itu bisa dicek fisik, tetapi yang paling mendasar adalah kerusakan inmaterial. Jadi, keluarga kami, khususnya anak-anak kami itu trauma secara psikis. Itu yang paling prinsip,” jelasnya.

Terkait tingkat kebisingan (dB) dari aktivitas blasting itu, kata Edy, dirinya tidak terlalu memahami akan hal itu. Pasalnya, dirinya juga bukan orang teknis di bidang geologi dan sebagainya.

Namun, dengan mendengar secara langsung suara yang ditimbulkan saat proses blasting tersebut, dirinya yakin jika tingkat kebisingan dan getaran yang ada telah melebihi nilai ambang batas yang diatur dalam Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal).

“Kalau untuk ukuran desibel (dB-red), saya juga bukan orang teknis dibidang geologi itu. Jadi, saya tidak begitu paham. Kalau menurut alibi mereka bahwa selalu di bawah nilai ambang batas, tapi kalau hari ini tadi karena alatnya juga tidak ada, itu sudah melampau ambang batas. Baik, suara maupun getaran. Makanya langsung direspon ini, dari beberapa RT dan tokoh masyarakat,” katanya.

Hal senada pun disampaikan Ketua Forum RT, Kelurahan Rinding, Abdul Wahab. Ia mengaku heran dengan getaran ledakan dan suara yang sampai ke kawasan pemukiman warga. Seharusnya, ada upaya dari perusahaan untuk mengatasi gangguan lingkungan dari aktivitas pertambangan.

“Saya saja hanya pakai celana pendek langsung keluar rumah, saya sangka POM (SPBU Rinding lama-red) disini yang meledak. Ternyatanya, blasting yang besar betul. Makanya, kita gerak cepat dan panggil orang SIS dan DNX. Kita gelar pertemuan tadi disini dan kita akan rapat lagi yang rencananya hari Kamis depan,” ujar pria yang juga Ketua RT 02 Kelurahan Rinding ini seraya meminta beraunews.com untuk kembali meliput rapat selanjutnya tersebut.

Dikesempatan yang sama, Ketua Forum Masyarakat Peduli Lingkungan, Kelurahan Rinding, Mastur menilai, segala aktivitas perusahaan tambang seharusnya sesuai dengan dokumen Amdal. Dalam dokumen Amdal, seluruh kegiatan tambang, tidak boleh menganggu lingkungan, termasuk lingkungan sosial masyarakat yang bermukim dekat dengan lokasi aktivitas tambang batubara. 

“Kalau melihat kami secara pasti tidak, kalau mendengar (suara ledakan) itu tentu sangat jelas. Kalau kami rasakan selama Berau Coal operasi di Kabupaten Berau, masyarakat Rinding itu tiada hari tanpa blasting, artinya setiap hari. Dan yang kami rasakan, hari ini yang luar biasa daripada biasa-biasanya. Ini yang lebih besar, lebih kuat yang kami rasakan,” ujarnya.

Berdasarkan laporan warga, Mastur akan kembali berkoordinasi dengan arapatur pemerintahan di Kelurahan, Kecamatan dan Kabupaten untuk menegur perusahaan tambang yang melanggar aturan lingkungan dalam menjalankan aktivitas peledakan.

Masyarakat, jelas Mastur, tentu sangat bisa membedakan antara suara dan getaran yang ditimbulkan dari guntur, gempa maupun aktivitas blasting. Sehingga, warga sangat resah dengan kondisi tersebut.

“Kalau kaget itu sudah setiap hari. Kami sudah setiap saat juga menyampaikan dengan PT Berau Coal. Kami memohon itu hanya satu artinya kami menghormati keputusan pemerintah, kalau tidak bisa ditiadakan blasting itu, maka paling tidak dikurangi agar jangan mengganggu ketenangan masyarakat yang ada di sekitar tambang ini tadi,” pungkasnya.

Sementara itu, upaya beraunews.com mengkonfirmasi pihak PT SIS melalui Manager HRD, Fadli baik melalui pesan singkat maupun telepon, belum membuahkan hasil. Pernyataan dari PT SIS akan dimuat dalam berita selanjutnya.(Andi Sawega)