Wanita Penentu : Syarifatul Sya’diah : Emansipasi Jangan Kebablasan (Bagian 3)

TANJUNG REDEB – Merantau ke Berau dari kota kelahirannya, Malang, Jawa Timur bersama suami dan anak-anaknya merupakan pilihan yang diambil Syarifatul Sya’diah, beberapa tahun silam untuk merubah hidup mereka menjadi lebih baik.

Bekerja di PT Kiani Kertas Nusantara selama beberapa tahun sebelum memutuskan untuk menekuni dunia usaha bersama Hadi Mustafa, sang suami, Ketua DPRD Berau periode 2014-2019, ini rupanya juga pernah menjadi tenaga pendidik di salah satu sekolah meski hanya berlangsung sekitar 2 bulan.

“Basic saya itu memang mengajar, tapi karena saat itu kondisi ekonomi yang kurang baik, maka saya memutuskan untuk lebih menekuni dunia usaha yang dibangun oleh suami saya,” ungkap perempuan yang bernaung di bawah Fraksi Partai Golkar ini, saat berbincang santai bersama beraunews.com usai Rapat Paripurna beberapa waktu lalu.

BACA JUGA : Wanita Penentu : Doa, Kerja Keras Dan Cinta Modal Utama Kadispenda Maulidiyah (Bagian 1)

Perempuan yang akrab disapa Sari ini mulai serius dan belajar bagaimana mengembangkan bisnis sang suami yang bekerja sebagai kontraktor dan Ketua Gapensi Berau itu. Banyak hal yang diajarkan suaminya ketika ia baru mulai menekuni dunia tersebut. Selain sebagai kontraktor, jejak suaminya yang juga merambah ke dunia politik akhirnya turut membawanya ke dunia yang sama.

Meski awalnya sama sekali tidak tertarik dengan dunia politik, namun posisinya sebagai Wakil Sekretaris Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Berau, saat itu perlahan memberikannya sebuah pembelajaran. Tak hanya menjadi katak dalam tempurung, ia mulai terjun langsung ke masyarakat, bertatap muka langsung dengan masyarakat dan menemukan hal-hal baru yang sebelumnya tak pernah ia ketahui.

“Dulu awalnya saya merasa pergaulan saya di situ-situ saja, tidak berkembang. Tapi setelah diangkat menjadi Wakil Sekretaris PKK, semakin banyak orang-orang yang saya kenal,” katanya.

Saat itu juga ia mulai berpikir bagaimana agar dirinya tidak selalu bergantung pada suami. Sehingga pada saat pencalonan legislatif, dirinya pun maju dengan bermodalkan keberanian dan dukungan dari keluarga serta Partai Golkar yang mempercayai dirinya, akhirnya ia maju dan bertarung dengan caleg-caleg lainnya untuk menduduki kursi jabatan di DPRD Berau .

“Saat itu figur perempuan di Berau memang masih sangat kurang. Persyaratan untuk maju di pencalegan juga kuota perempuan harus memenuhi 30 persen,” kisahnya.

BACA JUGA : Wanita Penentu : Meski Pimpinan DPRD, Bagi Erlita Herlina Keluarga Tetap Nomor 1 (Bagian 2)

Alangkah tidak menyangkanya dirinya dapat terpilih menjadi Ketua DPRD Berau. Menggantikan Erlita Herlina, sebagai sosok Ketua DPRD perempuan pertama di Berau, akhirnya dengan tekad yang kuat agar bisa menjalankan tugas dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat satu per satu tugas dan fungsi pokok dewan ia pelajari.

“Karena sudah terlanjur terjun ke ranah ini, maka harus saya jalankan benar-benar dengan penuh tanggung jawab. Apalagi posisi saya sebagai wakil rakyat, maka yang harus saya utamakan adalah kepentingan rakyat,” lanjut wanita berhijab ini.

Diakuinya, selama serius terjun ke dunia politik, waktu untuk keluarga yang dimilikinya memang sedikit berkurang. Baginya, itulah resiko yang harus ia terima. Perasaan tidak nyaman terkadang ia tunjukkan kepada suami dan anak-anaknya yang merasa kurang waktu kebersamaan, meski dukungan dari suami dan anak ia dapatkan sedari awal.

“Tetap saja kadang saya tidak enak sama anak-anak kalau jarang bisa bertemu atau bersama-sama, tapi itu adalah bagian dari resiko. Dan Alhamdulillah lama kelamaan mereka bisa memahami tugas dan pekerjaan ibunya,” ujar mantan Sekretaris di PT Kiani Kertas tersebut.

Tidak hanya memiliki wajah cantik, diusianya yang terbilang sudah tidak muda, perempuan yang memiliki hobi memasak ini juga adalah sosok wanita yang cerdas. Ia mampu memanfaatkan waktu kebersamaan dengan anak-anaknya semaksimal mungkin. Dalam mendidik anak, menurutnya, perempuan adalah figur yang paling berpengaruh. Sehingga pendidikan bagi kaum wanita adalah yang paling utama.

Meski saat ini penghasilannya terbilang sudah cukup membantu perekonomian keluarga, namun ia tetap memposisikan dirinya sebagaimana kodratnya sebagai wanita. Suami yang selalu memberikan dukungan padanya tidak pernah ia lupakan dalam setiap pekerjaan yang ia lakukan.

“Saat ini memang zamannya emansipasi, wanita harus bisa menunjukkan jati dirinya. Menampilkan potensi yang mereka punya. Tidak sekadar mengandalkan fisik, wanita harus dibekali pengetahuan yang luas. Tapi ingat, jangan kebablasan. Wanita harus tetap pada kodratnya sebagai wanita, yakni menjadi makmum yang imamnya adalah pria,” tutup perempuan lulusan Magister Ilmu Ekonomi di Universitas Mulawarman, Samarinda itu.(Marta)