Wanita Penentu : Meski Pimpinan DPRD, Bagi Erlita Herlina Keluarga Tetap Nomor 1 (Bagian 2)

TANJUNG REDEB – Masuknya perempuan ke dunia politik bukan lagi menjadi hal yang tabu. Sudah bukan rahasia umum lagi, keberadaan perempuan juga tak perlu diragukan, bahkan ada banyak posisi dan jabatan penting yang diemban kaum wanita. Salah satunya, Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarno Putri, sebagai Presiden wanita pertama dan satu-satunya yang dimiliki Indonesia hingga saat ini.

Begitu juga kancah politik di Kabupaten Berau. Sejak berdirinya DPRD sebagai lembaga pemerintah yang bertugas menampung aspirasi serta mewujudkan keadilan serta kesejahteraan bagi masyarakat tersebut, tercatat sudah dua periode berturut-turut jabatan Ketua DPRD dipegang oleh wanita, yakni Erlita Herlina dan Syarifatul Sya’diah.

Erlita Herlina lahir di Teluk Bayur, 50 tahun silam, merupakan Ketua DPRD Berau dari kaum perempuan yang pertama. Latar belakang keluarganya yang tidak lepas dari dunia politik, rupanya sedikit demi sedikit menumbuhkan minatnya terjun ke dunia yang sama. Partai Golongan Karya (Golkar), menjadi partai yang menaungi dirinya, begitu juga dengan kedua orang tuanya.

“Dunia politik bukan hal yang baru, karena kedua orang tua saya juga adalah orang-orang yang terjun dalam dunia politik sejak saya masih kecil. Sama dengan saya, mereka berdua juga bernaung di bawah Partai Golkar,” kisahnya saat ditemui beraunews.com usai Rapat Paripurna DPRD, Senin (29/8/2016) kemarin.

Tidak langsung meniti karir menjadi Ketua DPRD, ia mengaku banyak tantangan dan proses yang ia lewati hingga dapat menempati posisi tersebut. Seperti yang sempat ia utarakan, sebelum eksis di dunia politik, ibu dari Muhammad Arya Pratama, ini bekerja sebagai Manager Pembinaan Hutan di salah satu perusahaan kayu selama 6 tahun.

Pekerjaan itu ia ambil dengan pertimbangan jurusan yang ia ambil di bangku kuliah, yakni Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Samarinda, angkatan tahun 1990. Kemudian ia melanjutkan pendidikan S2 dengan mengambil Fakultas Ekonomi, pada tahun 2014.

Meski bekerja, namun ia tidak lupa dengan perannya sebagai seorang istri dan ibu bagi satu-satunya buah hatinya. Hingga suatu hari, karena tugas dan tanggung jawab terhadap pekerjaan yang diemban sang suami, Heri Suparno, perempuan yang kerap mengenakan hijab dan kacamata ini, harus mengakhiri karirnya di perusahaan kayu tersebut. Ia mengikuti jejak langkah suami yang harus bertugas di luar daerah selama beberapa tahun.

Setelah masa tugas suaminya selesai, ia kembali ke Berau dan memutuskan untuk menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga, mengurus anak dan suaminya dengan penuh kasih dan sayang.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, kehampaan mulai menghantuinya. Tidak ada kegiatan yang biasa ia lakukan semasa masih bekerja “memaksa” dirinya untuk bergabung ke Partai Golkar.

“Bukan baru bergabung, tapi lebih tepatnya sejak kepindahan kami kembali ke Berau, saya merasakan kevakuman kegiatan. Sehingga saya mulai berpikir untuk kembali mengeksiskan diri di dunia politik, mengisi kekosongan yang saya rasakan,” tutur wanita yang pernah menempuh pendidikan di SMP Negeri 1 Berau angkatan tahun 1982 tersebut.

Keaktifannya dalam dunia politik mengantarkan dirinya sebagai calon anggota legislatif (caleg). Melalui mekanisme partai, akhirnya dirinya terpilih menjadi Ketua DPRD Berau periode 2009-2014.

“Waktu itu ada 4 orang caleg dari partai Golkar, salah satunya saya, dari dapil 2,” kenangnya.

Sebagai seorang perempuan yang saat itu diberi kesempatan menempati posisi jabatan strategis, satu hal yang menjadi motivasi kuat Erlita, yakni ingin dalam setiap kebijakan dan keputusan yang menjadi aturan hidup banyak orang, ada peran perempuan didalamnya. Sehingga, kebijakan yang diambil bisa adil seadil-adilnya, baik bagi kaum lelaki maupun perempuan.

Dukungan keluarga, terutama suami dan anaknya adalah yang paling berarti baginya. Dengan apa yang dicapai pada saat itu, ia menganggap jabatan adalah amanah dari Tuhan, yang mesti dipertanggungjawabkan baik dunia dan akhirat.

Meski menjadi pucuk pimpinan di parlemen, perempuan yang gemar membaca ini tidak serta merta mengambil keputusan atau kebijakan berdasarkan pemikiran dirinya saja. Ia selalu membuat keputusan dengan melibatkan rekan-rekan parlemen lainnya.

“Kita perempuan, meskipun sebagai pimpinan tapi saya tidak pernah mengambil keputusan sendiri, saya tetap menghargai dan menghormati laki-laki,” ucapnya.

Saat ini, Erlita tidak lagi menjabat sebagai Ketua DPRD. Namun, posisi yang ia emban tidak menutup perannya dalam ikut andil menentukan kebijakan.

Di hari-harinya mengisi jabatan sebagai Ketua Komisi II DPRD Berau, ia tetap mengutamakan keluarga. Segala sesuatu yang menurutnya tidak begitu perlu dilakukan akan ia tinggalkan demi menemani sang buah hati.

“Kadang anak protes juga kalau saya berangkat-berangkat terus. Jadi kalau ada kegiatan yang tidak terlalu penting tak jarang saya pertimbangkan untuk lebih memilih bersama keluarga,” katanya.

Untuk memotivasi dirinya sendiri, ia seringkali menanamkan prinsip bahwa keberadaan keluarga adalah untuk selamanya, dan pekerjaan hanya sementara. Erlita juga berpesan kepada seluruh kaum perempuan untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, karena proses pembentukan keluarga yang dimulai dari ibu membutuhkan pendidikan, baik formal maupun nonformal.(Marta)