Post Truth Era, Waspada HOAX?

 

Berdasarakan sumber post truth era merupakan era dimana opini lebih dominan dibanding fakta yang sebenarnya. Individu atau kelompok secara bebas menentukan apa yang dianggapnya paling benar. Hal ini merupakan komoditi, dimana masyarakat menafsirkan sebuah fakta dengan menghilangkan makna sebenarnya menjadi sebuah opini yang nantinya menjadi sebuah narasi dan wacana publik.

Tumbuh berkembangnya post truth sangatlah beriringan dengan perkembangan network news alias berita yang berbasis pada kekuatan internet, dalam hal ini, perkembangan media tradisional seperti radio, televisi dan media lainnya, berkembang menjadi media modern. Kebebebasan mengakses internet tanpa dibatasi oleh waktu dan letak geografis, merupakan faktor pendorong utama tumbuh berkembangnya post truth era. Individu di suatu tempat dapat melihat secara langsung sebuah kejadian di negara lain, begitu pula sebaliknya, individu secara langsung dapat menyiarkan kejadian di tempatnya secara terkini dan bebas di akses secara langsung oleh orang-orang dimana saja, tanpa dibatas waktu dan tanpa batasan geografis.

Tumbuh berkembangnya post truth era sangatlah berpengaruh pada individu dalam menerima, menafsirkan, hingga membagikan sebuah informasi dalam hal ini adalah berita. Di dalam penerapannya, informasi yang tersampaikan secara langsung melalui media yang berbasis network, kebanyakan tidaklah memperhatikan unsur-unsur terpenting dalam penyampaian informasi berita, yaitu unsur 5W + 1H. Selain itu, terdapat beberapa syarat sehingga informasi tersebut, bisa dijadikan sebuah berita seperti faktual, terkini, berimbang, sistematis, lengkap, dan tentunya bermanfaat.
 
Tingginya intensivitas individu mengakses jaringan internet dan sosial media, merupakan suatu peluang bagi si pembuat berita, sehingga muncul sebuah kesempatan bagi individu atau kelompok tertentu menyampaikan sebuah berita yang tentunya mereka tidak pernah peduli mengenai fakta (kejadian sebenarnya) tentang berita tersebut, selama maksud dari pembuatan berita tersebut tersampaikan, sebut saja berita HOAX atau sebagian menyebutnya fake news.

Berdasarkan data yang dipaparkan Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, sebagaimana dikutip penulis dari CNN Indonesia disebutkan, pada tahun 2016, ada sebanyak 800.000 situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar berita palsu dan ujaran kebencian. Selain itu, jutaan akun sosial media yang identitas pemilik (adminnya) tidak diketahui, menjadi bukti perkembangan post truth era. Hal ini sangatlah rentan berita-berita kebohongan tersebar luas. Apalagi tidak kita pungkiri, pelaku pengguna sosial media sebagian besar sangat mudah menerima dan menafsirkan hingga membagikan sebuah berita yang sumbernya tidak diketahui.

Menurut Michel Foucault dalam teori pengetahuan dan kekuasaan, dalam fenomena hoax, individu tertentu dengan pengetahuannya, individu tersebut dapat menggunakan kekuasaannya dalam mempengaruhi individu lainnya dengan tujuan tertentu, sehingga individu (pembuat berita) merasa puas ketika hasrat dan tujuannya membuat informasi (wacana) telah terlaksana. Misalnya si A (pembuat berita) mengekspos suatu berita, dan dilihat oleh si B dan C, kemudian tanpa disadari si B dan C menyebarnya ke D, E, dan seterusnya, dan secara tidak langsung si B dan si C telah menadi pengikut atas kekuasaan dan pengetahuan si A.

SARA adalah sasaran utama bagi si pembuat berita kebohongan, mulai dari isu A hingga isu Z, tersebar luas tanpa sumber yang jelas, belum lagi berita (video) yang sengaja dipotong dan berita (foto) yang sengaja diedit untuk menyampaikan maksud tertentu, bahkan terkadang suatu isu tertutupi oleh isu lain yang sedang viral.

Kita memang sedang berada di post truth era. Kita sangat hobi, bahkan tak jarang diri kita kecanduan mengkonsumsi dan membagikan berita-berita kebohongan. Kita begitu polos menafsirkan apa agenda yang sebenarnya disusun oleh oknum-oknum tertentu, politik kah??? Pembodohan kah??? Ataukah hanya sebuah dongeng semata. Akhirnya, penulis mengajak kita semua untuk lebib bijak dan cerdas dalam menyerap informasi dan membagikannya, agar kita semua terhindar dari agenda tersembunyi para pelaku Hoax.

(* Penulis : Ahmad Aji Anugrah, S.Sos, seorang wirausahawan di Kabupaten Berau, yang juga alumni Fakuktas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Univeristas Hasanuddin Makassar. Disunting oleh : NR. Dewi/bnc)