Perempuan, Politik dan Cinta

 

Dalam berbagai hal terkadang perempuan selalu ditasirkan sosok yang lemah, anggun, molek, serta kiasan estotik yang melekat pada dirinya. Kata perempuan yang terpenggal menjadi [Pe] rempu [an] adalah sebuah proses perilaku untuk "menjadi", yang bisa saja menjadi perempuan yang sesungguhnya dengan segala tanggung jawab yang dimilikinya sebagai pendamping suami dan pengasuh dari anak-anaknya, atau sebuah proses menuju kedewasaan dari sosok perempuan yang dimaksud.

Dalam sejarah politik dunia, mungkin kita mengenal Margaret Thatcher mantan perdana menteri Inggris yang dikenal sebagai wanita bertangan besi, Benazir Bhutto mantan presiden Pakistan, Isabel Perón presiden wanita pertama dalam politik modern yang berkuasa di Argentina, Bunda Teresa yang menghabiskan waktunya untuk kemanusiaan, dan di era modern, ada Hillary Clinton calon Presiden USA dari Partai Demokrat.

Sejarah Indonesia pun, mengenal sosok pahlawan nasional seperti Raden Adjeng Kartini, Cut Nyak Meutia, Cut Nyak Dhien, Rasuna Said, mereka pun menghabiskan waktunya untuk cita-cita kemerdekaan bangsanya. Bahkan, dalam fase sejarah Ke-Nabian Muhammad SAW, dalam sebuah peperangan, Nusaibah binti Ka'ab tampil membela Agama Allah, di medan perang. Nusaibah binti Ka'ab terhujani panah dan tombak di tubuhnya, saat tubuhnya mau terjatuh, Rasulullah memeluknya lalu berbisik, wahai Nusaibah, sesungguhnya engkau jauh lebih mulia dari seorang laki-laki. Bukan karena melampaui kodratnya sebagai perempuan, tetapi karena Nusaibah memperlihatkan sikap yang teguh, prinsip dan cita-citanya menjadikan ia mulia.

Dan kami kira, dibelahan dunia ini banyak perempuan yang hebat, tangguh dan pejuang. Film "Biarkan Kami Bersaudara" menginjeksi pikiran kita, bagaimana sosok perempuan kecil memilih mengabdi di Nusa Tenggara Barat yang kering dan tandus, belum lagi lingkungan ideologis yang berbeda. Sebab, kemajuan satu peradaban tidak selamanya disentuh dengan invation menurut Samuel P. Huntington disebut sebagai Class Civilitation (benturan peradaban), akan tetapi seribu kemajuan bisa disentuh dengan satu hati perempuan.

Sekalipun memang dipanggung politik Indonesia, belumlah dapat memenuhi 30 persen kouta perempuan di parlemen. Ada beberapa asumsi yang menyebabkan Pertama, karena rekruitmen perempuan di partai politik begitu sedikit dibandingkan kaum perempuan. Kedua, rendahnya minat kaum perempuan masuk diarena politik praktis. Ketiga, perempuan lebih care dan memilih aktivitas di luar politik, seperti menjadi pebisnis.

Belum lagi perempuan terpenjara oleh "Patriarkisme" dimana kaum perempuan hanya memilih jalan untuk mendampingi suami dan pengasuh bagi anak-anaknya. Suguhan kapitalisme dan wajah metropolis, menjadikan patriarki cendrung diseruduk oleh kaum perempuan, dan tidak ayal kalau kemudian "perempuan" juga aktif mengisi ruang-ruang publik dan seabrek kegiatan lainnya.

Tetapi, paling tidak, perempuan adalah perekat sosial, dalam pengertian sosok perempuan begitu penting (filsafat romantisme) dalam kehidupan sosial. Kelembutan dan kesehajaan perempuan adalah pemantik kehidupan, sebab gerak perubahan dan peradaban selalu dilahirkan olehnya.

Yah, dari rahim seorang perempuan lahir kecintaan, lahir generasi dan gerak peradaban. Gerakan perempuan tak semata kesetaraan "gender", merubah lebel (streotipe) yang melekat pada dirinya. Tetapi, perempuan secara harfiah telah merawat generasinya sejak dikandungan.

Sehingga tidak salah kalau diksi perempuan adalah tiang negara atau penyanggah peradaban. Julia Kristeva telah mendarasnya dalam satu artikel "perempuan, sex dalam sastra". Karenanya, perjuangan kaum perempuan adalah satu perjuangan tanpa jeda, berbagai label negatif akan menjadi jalan suci bagi perempuan untuk merebut eksistensinya. Sebabnya, kita bangga bukan? Karena kita lahir dari rahim seorang perempuan.

(*Penulis : Zulfikar adalah seorang pemuda yang berdomisili di Kampung Merancang Ilir, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau. Saifuddin Al Mughniy adalah Dosen Universitas Pejuang Republik Indonesia (UPRI) Makassar. Tulisan ini dibuat dan didedikasikan untuk kebangkitan perempuan di dunia politik)