Bom Bunuh Diri Bukan Jihad

 

TANJUNG REDEB – Aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh sebagian orang, bukanlah amal baik dan bukan perbuatan jihad sama sekali. Bahkan, aksi tersebut merupakan sebuah penyimpangan. Hal tersebut disampaikan Ustaz Mahya Syarwani dalam khutbah Jumatnya di Masdjid Baitus Salam di kawasan Komplek Sejahtera Jalan H. Isa III, Jumat (18/05/2018).

Dikatakannya, aksi bom bunuh diri, tidak ada baiknya sama sekali. Selain pelaku mati sia-sia, orang lain juga mengalami luka dan korban jiwa. Bom bunuh diri juga pertanda tidak digunakannya akal dengan baik, hidup itu untuk disyukuri bukan di akhiri.

Selain itu, tambah Ustaz Mahya, surga adalah tempat berpulang yang baik, dimana ia hanya bisa digapai dengan cara-cara yang baik pula. Sebuah kebaikan tidak akan bisa digapai dengan keburukan, karena keduanya saling berlawanan.

“Allah SWT menegaskan dalam Qur’an Surah An-Nisa ayat 29 : Dan janganlah kalian membunuh diri kalian, sesungguhnya Allah Maha Menyayangi kalian. Selain itu, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari dan Muslim, Rasulullah SAW pernah bersabda yang artinya : Barang siapa yang bunuh diri dengan menggunakan suatu alat/cara di dunia, maka dia akan disiksa dengan cara itu pada hari kiamat,” bebernya.

Dari situ, lanjut Ustaz Mahya, kita bisa memahami, bahwa terorisme tidak selalu identik dengan agama. Karena ketika melakukan teror, mereka sudah tidak memikirkan Tuhan sebagai tujuan utama, tetapi yang dipikirkan hanyalah harapan-harapan kosong atau angan-angan kosong untuk mendapatkan kebahagiaan abadi di surga. Padahal untuk masuk surga, indikatornya adalah berbuat baik (beramal saleh) kepada siapapun dan dalam keadaan apapun, bukan melakukan bom bunuh diri

“Hal ini sebagaimana Firman Allah SWT dalam Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 25 : Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik (amal saleh), bahwa mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai didalamnya,” jelasnya.

Selain menjelaskan terkait bom bunuh diri, Ustaz Mahya juga memaparkan terkait nilai perdamaian yang terkandung dalam bulan Ramadhan. Menurutnya, bulan ramadhan sangat tepat untuk mendisiplikankan hati, pikiran, dan tubuh untuk tidak menjadi teroris. Nilai-nilai perdamaian yang ada di dalam bulan ramadhan itu, diantaranya ialah berpuasa, sabar, istiqomah serta meraih ridha Allah.

“Bulan ramadhan merupakan bulan kasih sayang. Jadi segala sesuatu yang ada di dalamnya mengandung unsur kasih sayang, bukan unsur garang. Selama bulan ramadhan, kita dilatih untuk tidak pro dengan teroris yang menimbulkan keresahan, tetapi pro dengan tindakan baik yang menimbulkan perdamaian. Harapannya, kita sebagai umat Islam semakin kukuh aqidahnya dan tidak terpengaruh dengan harapan-harapan kosong dari para teroris,” tandasnya.(Miko Gusti Nanda/bnc)