Indahnya Pilgub Kaltim 2018

 

SAMARINDA – Perhelatan pemilihan Gubernur Kaltim tahun 2018 sudah dimulai, dengan pendaftaran empat pasangan calon (paslon) di Kantor KPU. Nampak sekali, kader-kader partai yang loyal turut mengantar dengan seragam kebesarannya.

Di balik itu, dukungan tidak 100 persen terhadap paslon dari kader-kader partai pendukung. Beberapa kader bisa memilih paslon lain, walau beda partai. Loh kok bisa?

Ya tentu bisa, kader tak mengikuti instruksi partai sebab kesukaan ketokohan paslon. Jadilah, pemilihan gubernur menjadi kumpulan-kumpulan massa pendukung paslon, bukan lagi massa kader partai pendukung.

Pengecualian, tulisan ini tak berlaku bagi Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Paslon wakil Gubernur Hadi Mulyadi sangat loyal pendukungnya. Jumlah massa suaranya tak mudah digoda. Isran Noor sangat beruntung berpasangan dengan Hadi.

Berbeda dengan paslon lain, sulit mengendalikan massa kader partai-partai pendukungnya untuk menyeberang. Inilah yang mengharuskan tim sukses harus bisa sehebat mungkin promosikan ketokohan paslon.

Awang Faroek Ishak sebagai Ketua Dewan Pembina DPW Partai Nasdem Kaltim, tentu mendukung anaknya Awang Ferdian Hidayat yang berpasangan dengan Calon Gubernur Syaharie Jaang diusung koalisi PPP, PKB dan Demokrat. Padahal, Nasdem bergabung dengan Golkar mengusung Sofyan Hasdam dan Nusyirwan Ismail.

Untuk PDIP dan Hanura, lantaran tak mengusung kader-kadernya. Maka, cukup beralasan kader dari partai tersebut bisa memilih paslon lain, sebab ketokohan dan juga kader partai tersebut diusung partai lain. Rusmadi dan Safaruddin dari kalangan teknokrat dan penegak hukum mesti harus merawat hubungan yang kuat dengan partai pengusungnya. Jika tidak, maka tokoh tokoh partai PDIP dan Hanura bisa beralih ke paslon lain.

Dari seluruh kondisi ini, membuat pemilihan Gubernur berjalan tanpa ada kekuatan yang mendominasi untuk meraup suara terbanyak. Paslon yang menang nantinya mungkin tak lebih dari 35 persen total suara yang diraih.

(*Opini Dikutip dari Akun Facebook Muhammad Yamin)