Organisasi Orgasme

 

SAMARINDA – Di organisasi orgasme, ada yang bernama sama, berlogo sama dan bervisi misi yang sama, namun memiliki dua, tiga sampai beberapa Ketua Umum dan pengurus.

Di organisasi orgasme, ada organisasi profesi tapi berpolitik, ada organisasi politik tapi diisi tokoh tokoh profesi, ada organisasi akademis tapi berpolitik, ada organisasi politik tapi diisi tokoh-tokoh akademisi, ada organisasi tokoh agama, tapi diisi kegiatan politik.

Di organisasi orgasme, ada Ketua Umum dipilih melalui musyawarah nasional, ada Ketua Umum dipilih melalui rapat pleno dan ada Ketua Umum dipilih karena jabatan kosong.

Di organisasi orgasme, ada Ketua Umum yang diturunkan karena bermasalah hukum, ada Ketua Umum yang dilengserkan karena pembangkangan terhadap aturan main organisasi, tapi anehnya, Ketua Umum baru yang dipilih, juga tanpa menerapkan aturan main.

Di organisasi orgasme, ada organisasi memilih pemimpin karena kedekatan dengan penguasa, karena mungkin saja, ini organisasi pangan, sehingga perlu makan.

Di organisasi orgasme, ada organisasi yang marah besar dengan anggotanya, namun tidak mampu memberhentikannya sebagai pimpinan lembaga dan wakil rakyat, tapi disadari atau tidak, anggota itulah yang kini menaikan rating popularitas organisasinya.

Di organisasi orgasme, pemimpin harus seumur hidup, pemimpin harus ditaati tanpa alasan, pemimpin wajib diagungkan, yang lain hanya petugas dan bertugas.

Di organisasi orgasme, pemimpinnya Fir’aun, pengurusnya Qor’un, rakyatnya makan sukun.

Di organisasi orgasme, pemimpinya orgasme kekuasaan, pengurusnya orgasme kekayaan, rakyatnya orgasme kekerasan.

Di organisasi orgasme, mempermainkan hukum adalah kepuasan, membeli aparat adalah keseharian, membelokan putusan hakim adalah kebiasaan.

Di organisasi orgasme, aturan main hanya simbol belaka, kebenaran hanya bayangan semu, pembenaran adalah keniscayaan.

*Penulis MHF Al Ayub