Pengelolaan Perhutanan Sosial Berbasis Teknologi

 

TANJUNG REDEB – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melalui program perhutanan sosial, berupaya mengajak masyarakat untuk memiliki akses kelola hutan dan lahan yang luasnya hampir 75 persen daratan Indonesia, secara setara dan seluas-luasnya.

Pemerintah Indonesia telah menetapkan target 12,7 juta hektar untuk diberikan pengelolaannya kepada masyarakat. Hasil hutan diharapkan dapat dimanfaatkan sesuai prinsip kelestarian yang ramah lingkungan dan sejalan dengan nilai-nilai konservasi.  Selain itu, diharapkan juga dapat menurunkan konflik sosial yang sering terjadi. Dengan adanya akses tersebut, maka diharapkan kesejahteraan masyarakat akan lebih meningkat.

Salah satu daerah yang cukup maju dalam mendukung program Perhutanan Sosial ini adalah Kabupaten Berau yang saat ini telah memiliki 5 lokasi Hutan Desa. Bahkan salah satu hutan kampung yang dikelola Kampung Merabu seluas 8.245 hektar, berhasil meraih penghargaan terbaik kedua nasional dalam penghargaan Wana Lestari yang diselenggarakan KLHK tahun 2016. Keberhasilan Kampung Merabu ini, segera membuat kampung-kampung lain di Kabupaten Berau untuk mengikuti jejak keberhasilannya.

Dalam rangka mempercepat pencapaian target Program Perhutanan Sosial dan sekaligus meningkatkan kemampuan masyarakat yang tinggal di sekitar hutan untuk mengelola kawasannya, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kabupaten Berau Bersama The Nature Conservancy (TNC) Indonesia menyelenggarakan kegiatan Pelatihan Aplikasi Aksi Inspiratif Warga untuk Perubahan (SIGAP) pada 4-5 Desember 2017 lalu.

Lebih dari 1.200 orang dari 100 kampung di Kabupaten Berau menghadiri kegiatan ini. Selain warga kampung dan perangkat kampung, pelatihan ini juga diikuti oleh seluruh Camat, Organisasi Perangkat Daerah, dan Lembaga Swadaya Masyarakat di lingkup Kabupaten Berau.

Dalam sambutannya, Bupati Berau Muharram menyatakan, saat ini sudah masuk era digital, maka tidak boleh lagi mengelola kampung dan kecamatan hanya dengan menggunakan teknologi yang biasa-biasa saja. Masyarakat kampung harus melek terhadap teknologi.

Diharapkannya, melalui SIGAP, masyarakat memiliki wilayah kelola di kampung masing-masing, yang kemudian menjadi acuan dalam menetapkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Kampung (RPJMK) yang juga merupakan persyaratan utama dalam memanfaatkan Dana Desa dan Alokasi Dana Kampung yang saat ini juga menjadi perhatian utama pemerintah

“Saya harapkan penggunaan aplikasi SIGAP secara luas di Kabupaten Berau dapat membantu dalam mewujudkan masyarakat yang sejahtera, unggul dan berdaya saing,” ujarnya.

BACA JUGA : Sigap Sejahtera Ubah Kampung Jadi Luar Biasa

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa (DPMPD) Kalimantan Timur M. Jauhar Efendi mengungkapkan dukungan terhadap kegiatan ini. Dikatakannya, Pemprov Kaltim tertarik dengan pendekatan SIGAP, karena terlihat mampu meningkatkan semangat warga untuk memperbaiki kehidupannya dan kampungnya, atau dengan kata lain, mampu mengubah warga kampung menjadi luar biasa.

”Perencanaan pembangunan harus dilakukan karena anggaran yang terbatas. Kita perlu memiliki skala prioritas. Perencanaan itu harus melibatkan banyak pihak,” ujarnya.

Sementara itu, Direktur Terestrial Program TNC Indonesia Herlina Hartanto mengatakan, pada tahun 2020, TNC berharap setidaknya ada 600 kampung di seluruh Indonesia yang sudah menerapkan SIGAP yang berbasis android. Penggunaan android, dikatakan Herlina, lantaran Indonesia adalah pengguna media sosial terbesar di dunia. Saat ini anak-anak muda di kampung-kampung pun sudah menggunakan telepon pintar.

“Kami berpikir warga kampung, termasuk anak-anak mudanya, dapat menjadi agen pembawa perubahan di tingkat tapak, sehingga tata kelola kampung, pembangunan kampung dan alam disekitarnya dapat bersinergi secara lestari,” katanya.

“Melalui aplikasi di telepon genggam ini, masyarakat kampung bisa berbagi cerita inspiratif ke seluruh Indonesia. Untuk diketahui, walau aplikasi SIGAP ini baru berumur 1,5 tahun, namun sudah ada 16 ribu cerita yg dibagikan oleh para penggunanya. Pada masa datang, kami harap penggunaan teknologi seperti aplikasi SIGAP dapat mendukung percepatan Program Perhutanan Sosial dalam skala nasional,” tutupnya.(bnc)