Pukuli Murid Membabi Buta, Aksi Oknum Guru Terekam Kamera


BANGKA BELITUNG – Pahlawan tanpa tanda jasa, itulah gelar yang diberikan untuk seorang guru, karena dengan keikhlasan dan ketulusannya dalam mengajar dan memberikan ilmu yang bermanfaat bagi anak muridnya.

Tetapi baru-baru ini, kekerasan dalam dunia pendidikan kembali terjadi, dimana seorang oknum guru, terekam kamera melakukan tindakan yang dapat dikatagorikan penganiayaan terhadap berinisial RHP, yang tak lain anak muridnya.

Video yang diunggah akun call of duty ghost lewat @lawan_teroris pada Minggu (5/11/2017) petang, belakangan diketahui jika oknum guru tersebut diduga berinisial M dan terjadi di salah satu SMP di Kota Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Dari hasil rekaman video salah satu siswa di kelas itu, melihatkan secara jelas seorang oknum guru yang melakukan tindakan yang tidak patut dilakukan bagi seorang pendidik. Bagaimana tidak, pukulan secara brutal terlihat ditujukan kepada siswa, yang entah pelanggaran apa yang ia lakukan.

Kejadian yang terjadi saat Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) juga memperlihatkan, saat salah satu siswa berusaha melerai, bukannya berhenti memukul melainkan amarah si oknum guru makin menjadi, alhasil siswa yang berusaha mendamaikan tersebut pun juga tak lepas dari perlakuan kejam si oknum guru.

Selain memukul, sang oknum guru juga memberikan tendangan lutut berulang kali, kepada siswa yang duduk di barisan pertama, pojok kanan kelas itu.

"Apapun alasannya, seorang pendidik tidak pantas berbuat seperti ini kepada anak didiknya, Kiriman video : dari M Darminto," tulis call of duty ghost lewat @lawan_teroris pada Minggu (5/11/2017) petang.

RHP kini terbujur lemah di IGD RSUD Kota Pangkalpinang setelah menjadi korban pemukulan sang guru. Berdasarkan informasi yang dikutip beraunews.com dari laman manaberita.com, diketahui jika emosi sang oknum guru terjadi lantaran korban dengan sengaja mengejek guru tersebut, dengan langsung memanggil nama tanpa menggunakan sapaan pak.

Secara garis besar, hal tersebut telah dikategorikan sebagai tindak pidana penganiayaan dan melanggar Pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak, yang berbunyi “Setiap orang yang melakukan kekejaman, kekerasan, atau ancaman kekerasan, atau penganiayaan terhadap anak, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp72 juta”.

Juga secara umum, tindakan penganiayaannya bisa dijerat pasal 352 ayat 1 KUHP yang berbunyi : “Kecuali yang tersebut dalam pasal 353 dan 356, maka penganiayaan yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau pencarian, diancam, sebagai penganiayaan ringan, dengan pidana penjara paling lama tiga bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah”.(Miko Gusti Nanda/bnc)