Produksi Jagung Kaltim Surplus

 

SAMARINDA – Selama dua tahun terakhir ini, produksi komoditi pangan Kaltim khususnya jagung menunjukkan hasil yang menggembirakan atau mengalami surplus (kelebihan produksi). Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura Kaltim, Ibrahim saat rapat staf dengan Gubernur Kaltim di Ruang Tepian I, baru-baru ini.

Menurutnya, tanaman jagung merupakan salah satu komoditi pertanian unggulan yang dikembangkan secara nasional guna mendukung swasembada dan ketahanan pangan Indonesia. Ibrahim menyebutkan pada 2016, produksi mencapai 22.132 ton sementara konsumsi hanya sekitar 16.730 ton dan kebutuhan ternak 2.950 ton, sehingga ada kelebihan 2.452 ton.

“Tahun 2017 surplus 83.820 ton dari produksi 103.500 ton. Sebab kebutuhan konsumsi hanya 16.730 ton dan pakan ternak 2.950 dalam setahun,” sebutnya.

Dia mengakui tingginya produksi jagung Kaltim tidak terlepas dari keterlibatan dan peran pihak swasta melakukan pengembangan komoditi strategis nasional tersebut. Saat ini ujarnya, banyak pihak swasta seperti perusahaan yang bergerak di subsektor kehutanan dan perkebunan mengembangkan tanaman jagung di lahan konsesi mereka.

Misalnya, PT Sumalindo yang selama ini bergerak di bidang perkayuan atau HPH (Hak Pengusahaan Hutan) di Batu Putih, Kabupaten Berau. Dimana lanjutnya, pada tahun 2016 telah melakukan penanaman di lahan seluas 325 hektar dan berproduksi sebanyak 1.600 ton. Berlanjut pada 2017 di lahan konsesinya seluas 250 hektar dengan produksi mencapai 1.250 ton dan sekitar 100 ton jagung dilakukan pengiriman ke Pulau Jawa.

“Banyak perusahaan kehutanan dan perkebunan yang melakukan penanaman jagung di lahannya. Namun kita belum memperoleh data konkritnya. Tapi faktanya produksi jagung Kaltim selama dua tahun surplus,” ungkap Ibrahim.

Dia menambahkan beberapa kabupaten di Kaltim ditetapkan sebagai sentra tanaman pangan jagung diantaranya Kabupaten Paser, Kutai Kartanegara, Kutai Timur dan Berau. (yans/sul/humasprov/bnc)