Prihatin, di Berau Semakin Banyak Kasus Kekerasan Pada Anak dan Perempuan

 

TANJUNG REDEB- Maraknya kasus tindak kekerasan terhadap anak dan perempuan saat ini, menjadi perhatian khusus bagi Pemkab Berau. Bahkan tidak hanya tindak kekerasan, kasus perdagangan anak atau human trafficking pun kian mengkhawatirkan, terlebih beberapa kasus telah terjadi di Berau.

Hal itu kemudian mengundang keprihatinan dari berbagai kalangan, terutama dari Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) serta Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau.

Untuk meminimalisir terjadinya tindakan yang tak dibenarkan tersebut, DPPKBP3A bekerjasama dengan P2TP2A, menggelar sosialisasi permasalahan perempuan secara keliling di 13 kecamatan yang ada di Berau.

Bertempat di ruang rapat Kecamatan Sambaliung, Selasa (01/08/2017), sosialisasi tersebut kembali digelar dengan tema ‘Pencegahan dan Penanganan Tindak Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak’, yang dihadiri sejumlah kepala kampung dari Kecamatan Sambaliung, Ketua RT, Tim PKK, hingga tenaga pendidik dan masyarakat setempat.

Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, Wakil Ketua P2TP2A sekaligus Kepala Bidang Perlindungan Perempuan dan Anak DPPKBP3A, Noryati mengungkapkan, permasalahan yang saat ini paling menjadi perhatian ialah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, baik tindak kekerasan dalam rumah tangga hingga tindak kekerasan seksual yang sangat banyak terjadi di Indonesia.

“Apa yang kita tonton di televisi, seperti berita kasus kekerasan yang disiarkan di media massa itu semua sudah terjadi juga di daerah kita. Bahkan, kasusnya pun tidak hanya satu atau dua saja, sudah banyak kasus. Seperti ayah kandung memperkosa anak kandung, yang seperti itupun sudah terjadi di Berau. Sangat memprihatinkan,” ujarnya.

Menurutnya, kekerasan tersebut dapat terjadi kapan saja dan dimana saja bahkan dengan pelaku orang terdekat sekalipun. Sehingga peran aktif seluruh pihak sangat diharapkan dalam mencegah terjadinya kekerasan tersebut.

“Banyak sekali kami sudah menangani kasus kekerasan yang tidak lain pelakunya adalah orang terdekat dari korban, misalkan orang tuanya sendiri atau bahkan suaminya sendiri. Ini bukan hanya menyakiti ke fisik saja, tapi lebih menyakiti juga ke mental dan psikis korban, apalagi tidak ditangani segera,” ucapnya.

Selain itu, peran dari para pria untuk mencegah terjadinya berbagai bentuk kekerasan tersebut juga sangat dibutuhkan.

“Orang yang melakukan tindak kekerasan itu pasti sudah mengamati dan mengetahui calon korbannya. Dan para pria yang ada justru kami harapkan untuk menjadi perpanjangan tangan dari Pemkab untuk mengantisipasi hal ini terjadi,” katanya.

Sementara itu, pihaknya pun terus membuka diri bagi masyarakat yang mengalami tindak kekerasan terutama bagi perempuan dan anak untuk dapat melaporkan kekerasan yang dialami kepada pihaknya, agar dapat diberikan pendampingan untuk pemulihan secara psikis.

“Kami lakukan sosialisasi terus menerus ke seluruh Kecamatan, jika memang masih dibutuhkan, maka sosialisasi di Kecamatan bisa ditambah hingga dua atau tiga kali. Dan dengan sosialisasi itu kami harapkan benar-benar ada peran aktif dalam hal ini,” tandasnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia