Wow..!! Spanduk Ini Jadi Populer karena Isi Tulisannya

 

TANJUNG REDEB – Salah satu spanduk di kantor sebuah perusahaan tambang di Kabupaten Berau, banyak menjadi sorotan masyarakat. Hal inilah yang kemudian membuat semua lapisan individu menjadi bertanya-tanya, apa maksud dari isi spanduk tersebut?

Ketua Lembaga Adat Banua, Bajau dan Dayak (Babada), Fahrul Udin pun mengaku keberatan dengan bunyi dari spanduk yang berada tepat di depan pagar kantor perusahaan tersebut.

“Saya beranggapan, isi spanduk itu tidak berimbang dengan apa yang selama ini mereka lakukan. Bukannya kegiatan yang mereka lakukan selama ini banyak membuat dampak yang buruk bagi hutan, contohnya lubang-lubang bekas hasil kegiatan mereka. Adakah inisiatif mereka ingin menutupnya, sedangkan ini juga merupakan salah satu tanggung jawab mereka, yang telah jelas tertera dalam Amdal,” ucapnya kepada beraunews.com, Kamis (04/05/2017).

Selain itu, Fahrul Udin juga menjelaskan, masyarakat yang berada di sekitar lingkar tambang masih banyak yang sengsara, padahal dalam tulisan spanduk, tujuan utamanya juga untuk mensejahterakan rakyat.

“Dana yang katanya untuk membantu warga sekitar saja, tidak jelas pengeluarannya. Orang mengajukan proposal minta dana segini, keluarnya segitu. Sepahaman dan sepengatahuan saya, dana yang termasuk untuk reboisasi dan reklamasi juga untuk pemberdayaan dan meningkatkan taraf hidup masyarakat,” lanjutnya.

Fahrul juga menegaskan, apakah jika nanti ketika kegiatan perusahaan ini telah digantikan dengan perusahaan lain, bisakah tanggung jawab akan PR mereka untuk melakukan penanaman kembali untuk menutupi sisa-sisa bekas kegiatan tersebut dapat berjalan?

“Jangan hanya janji-janji manisnya saja, tapi buktikan, apakah mereka mau menanggulangi kerusakan-kerusakan yang telah mereka buat? Bukan hanya perusahan satu ini saja, tapi semua perusahaan yang bekerja di sektor tambang, agar dituntut tanggung jawabnya,” tegasnya.

Adapun dampak yang paling terasa, yang dikatakan Ketua Lembaga Babada tersebut,  yaitu panas bumi yang makin hari makin luar biasa meningkat suhunya.

“Yang namanya batubara yang tertutup oleh tanah, di dalam bumi kemudian digali seluas-luasnya, lalu tidak ada kesadaran untuk menutup bekas galian tersebut, sehingga suhu panasnya menyebar, ditambah lagi sinar matahari dari atas, otomatis kita sebagai manusia pasti merasakan suhu panas yang luar biasa,” ungkapnya.

Dari isi spanduk tersebut juga membuat Ketua Babada tersebut menegaskan, jika dipikir dengan logika, isi spanduk tersebut mengimbau agar menanam pohon, bukannya mereka yang merusak alam, menebang hutan, lalu dijadikan lahan pertambangan. Lantas, mengapa mereka mengimbau masyarakat seperti itu? Kan aneh.

“Mereka yang merusak tapi kita yang diimbau untuk menanam pohon,” tegasnya.

“Sebelum meninggalkan lokasi tambang, mohon yang menjadi kewajiban-kewajiban dan tanggung jawab perusahaan tersebut, bisa dijalankan,” harapnya.

 

Selain Ketua Lembaga Forum Adat, Ketua Persekutuan Dayak Kalimantan Timur (PDKT), Berau, Jiang Bith, juga turut memberikan tanggapan dengan isi spanduk tersebut.

“Imbauan mereka melalui spanduk tersebut pada prinsipnya seharusnya dikembalikan ke pihaknya sendiri terlebih dahulu. Lakukan tinjauan ke lapangan, apakah mereka telah melakukan reboisasi itu apa belum? Bukannya kita merendahkan atau apa, tetapi mereka juga harus betul-betul mengembalikan lahan hutan yang telah rusak itu,” ucapnya.

“Dampaknya secara positif merasa terbantu bagi yang memang bekerja di perusahaan tersebut, tetapi bagi yang berada di sekitaran wilayah tersebut pasti merasa dirugikan. Salah satu contoh kecilnya, kebun-kebun yang berada di sekitaran, banyak yang tidak berbuah akibat dari ledakan lubang penambangan,” imbuhnya.

“Sebelum mereka meninggalkan kegiatan proyeknya, harap dana yang ada yang memang khusus untuk membantu masyarakat sekitarnya itu disalurkan, jangan hanya orang-orang tertentu saja yang mendapatkannya,” tutupnya.(bnc)

Wartawan: Miko Gusti Nanda/Editor: R. Amelia