Melayani Masyarakat, Mulailah Dari yang Sederhana

 

SUMEDANG – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo belum lama ini mengunjungi Kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Di sana, ia melantik Mantan Dirjen Keuangan Daerah, Reydonnyzar Moenek sebagai wakil rektor kampus tersebut. Bagaimana cerita di balik pelantikan tersebut? Berikut kisah menarik yang ditulis Wartawan Koran Jakarta, Agus Supriyatna.

Hawa pagi masih terasa di IPDN di Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat. Ada pemandangan yang berbeda di kampus penghasil pamong tersebut. Di lapangan  belakang gedung rektorat, ratusan para praja berbaris rapi di tepi lapangan. Bunyi musik drum band terdengar memecah sunyi di pagi hari itu.

Sepertinya para praja sedang bersiap menggelar sebuah upacara. Tapi upacara pagi itu lebih istimewa sebab yang akan jadi inspektur upacara adalah orang nomor satu di Kemendagri, yakni Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo. Kemendagri sendiri adalah kementerian yang menaungi sekolah kedinasan tersebut.

Tidak lama, setelah itu suara bunyi drum band berhenti. Semua bersiap. Di depan lapangan sudah dipasang panggung kecil, tempat inspektur upacara akan berdiri memimpin apel. Yang ditunggu pun datang. Prosesi upacara pun dimulai.

Menteri Tjahjo langsung memimpin upacara. Sesi demi sesi upacara dilakukan dengan khidmat. Sampai kemudian tiba inspektur upacara memberikan pidatonya. Dengan memakai pakaian dinas harian, Tjahjo pun memulai pidatonya.

Ia mengawalinya dengan berbicara soal pergantian pejabat di kementerian yang dipimpinnya. Sebelumnya, di awal upacara Rektor IPDN, Ermaya Suradinata sempat membacakan isi Keputusan Presiden tentang pergantian Direktur Jenderal Keuangan Daerah Kemendagri yang dijabat oleh Reydonnyzar Moenek.

Selanjutnya Ermaya juga mengumumkan tugas baru Reydonnyzar sebagai Wakil Rektor IPDN.

"Pertama, saya sebagai Mendagri selama dua setengah tahun ini paling lambat bulan Mei, saya bersama bapak presiden dan Sekretaris BNPP yang baru akan melakukan pergantian pejabat baik di lingkup kemendagri, IPDN maupun di BNPP," kata Tjahjo mengawali pidatonya, sebagaimana dikutip beraunews.com dari laman resmi kemenkeu.go.id, Jumat (10/03/2017).

Kata Tjahjo dalam pidatonya, paling lambat bulan Mei, ia berencana untuk melakukan rotasi pejabat. Diungkapkannya ada 13 pejabat eselon 1  yang bertugas di BNPP dan Kemendagri yang mengikuti ujian atau seleksi di TPA. Hanya saja kata dia, belum diputuskan siapa akan menjabat dimana. Termasuk juga siapa saja yang bakal dirotasi atau diganti.

Kepada Rektor IPDN, Tjahjo mengingatkan paling lambat dua bulan, sudah dilakukan evalusi kepada seluruh  pejabat di lingkup IPDN, baik yang ada di Jatinangor maupun seluruh daerah. Evaluasi untuk penyegaran. Sekaligus untuk merawat kebersaman dan untuk kesinambungan.

Tjahjo juga menyampaikan akan menarik pejabat di IPDN ke Merdeka Utara, jika memang punya prestasi baik. Disebutnya nama Arief M Edie yang kebetulan saat itu sedang jadi komandan upacara.

"Termasuk pejabat IPDN  baik di Jatinangor maupun daerah ada yang akan  saya tarik di Kemendagri atau BNPP. Misalnya, kebetulan ada nih komandan upacara, saudara Arief , dua bulan lagi akan saya tarik ke Kemendagri, " katanya.

Rotasi kata dia, adalah bagian dari proses penjenjangan karir. Jadi menurutnya jika ada pada pejabat, itu adalah hal yang biasa. Semua itu dilakukan semata-mata untuk memperkuat sistem dan tata kelola pemerintahan, baik di pusat maupun daerah. Tjahjo pun mengucapkan selamat bertugas bagi mereka yang dapat pos baru.

"Saya menyampaikan selamat bertugas , jika kemudian hari ada hal hal yang perlu pertimbangan bisa diganti atau dimutasikan di tempat lain,"katanya.

Sedangkan bagi yang sudah memasuki masa pensiun, Tjahjo juga menghaturkan terima kasih. Mereka yang purnatugas telah menyelesaikan pengabdiannya. Ia berterima kasih atas dedikasi yang telah diberikan selama ini.

Tidak lupa Tjahjo juga memberikan wejangan kepada para praja yang ikut dalam upacara di Senin pagi itu. Kata dia, para praja setelah lulus nanti, akan mengalami hal yang sama, dimutasi dan dirotasi. Dan itu adalah hal yang wajar.

Dimana pun bertugas, di pos apapun ditempatkan, aparatur negara harus siap. Pergeseran jabatan harus dipahami sebagai bagian dari penyegaran organisasi. Jadi tak ada yang luar biasa. Semua itu adalah proses yang lumrah terjadi dalam sebuah organisasi. Termasuk organisasi birokrasi.

"Perpindahan dan pergeseran itu hal yang wajar, tidak ada yang salah, ini semata-mata untuk penyegaran, dan semata-mata proses kesinambungan. Ini semata-mata untuk memperkuat tata kelola pemerintahan, khususnya Kemendagri sebagai poros pemerintahan," tuturnya.

Tjahjo juga dalam pidatonya berbicara tentang pentingnya apel tiap hari Senin. Kata dia, apel Senin itu hukumnya wajib untuk dilaksanakan. Apel tiap Senin, tak sekedar prosesi upacara. Tapi apel tiap Senin, adalah sebuah prosesi untuk menebalkan rasa cinta kepada Tanah Air. Karena itu jangan anggap sepele upacara hari Senin.

"Saya ingatkan adik-adik sekalian harus tertanam dalam jiwa anda termasuk saya  penghormatan terhadap lambang-lambang negara, bendera Merah Putih,  lagu Indonesia Raya dinyanyikan hikmat, terhadap Pancasila, UU, harus dihormati," ujarnya.

Sikap hormat kepada negara, lanjut Tjahjo wajib tertanam dalam sikap semua pejabat di level mana pun. Apalagi bagi para praja yang kelak akan jadi pamong pelayan masyarakat. Bahkan mungkin akan jadi pejabat penting di republik.  Sebagai abdi negara wajib hukumnya mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila. Wajib hukumnya pula merawat kebhinekaan, dan menjaga tegaknya NKRI.

"Ini yang harus kita camkan, kenapa kita harus menghormati bendra Merah Putih? Kita mengibarkan sang saka Merah Putih dan kita menyanyikan lagu Indonesia Raya. Kita juga harus memahami dengan baik sila-sila Pancasila, bukan ucapan dari sila-sila itu tetapi maknanya," ujarnya.

Tjahjo juga meminta para praja saat sudah jadi pamong nanti benar-benar jadi pelayan,bukan jadi majikan. Rakyat adalah majikan. Karena itu pamong harus dekat dengan rakyat. Berikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Bahkan mulailah melayani rakyat dengan hal-hal yang sederhana.

Misalnya jika ada orang yang membutuhkan pertolongan menyebrang jalan, segera turun tangan menolongnya. Kebiasaan untuk cepat turun tangan membantu masyarakat sangat diperlukan. Mental seperti itulah yang harus dipupuk dan dibangun seorang abdi rakyat.

Menjelang siang, prosesi upacara selesai. Tjahjo sendiri tak lama ada di kampus IPDN. Ia langsung meluncur ke Bandung untuk berkunjung ke kantor Wali Kota Bandung. Selanjutnya pulang ke Jakarta melalui jalur darat.(Puspen Kemendagri/bnc)