Stand Up Jadi Pendamping Kewajiban sebagai Polisi

 

TANJUNG REDEB – Mei Mahatthir Gamayel, Brigadir Polisi Kepala (Bripka) yang saat ini bertugas di Kepolisian Resor Balikpapan, ternyata tak hanya sekadar aparat polisi. Bakat sebagai penyampai komedi pun dimilikinya. Bahkan, baginya komedi sudah menjadi bagian dari hidupnya sekaligus pendamping dalam kewajibannya sebagai seorang polisi. Bagaimana bisa?

Dimulai tahun 2011, lelaki akrab disapa Gamayel ini, mulai terjun dalam dunia komedi, yakni bergabung dalam komunitas Stand Up Comedy Balikpapan. Alasannya pun sederhana, karena baginya bergabung dalam komunitas ini memberikan banyak pengalaman sekaligus teman baru.

“Awalnya hobi saya bermusik, tetapi ternyata dalam musik ini segmented (terbagi dalam kelompok tertentu-red), dimana saya sebagai seorang polisi kurang bisa diterima, karena jumlah polisi yang menekuni musik ini sangat jarang sekali,” ungkapnya kepada beraunews.com, ketika ditemui sebelum tampil mengisi acara dalam stand up tour keliling, Sabtu (18/02/2017).

BACA JUGA : Gamayel Berhasil Membuat Penonton Sakit Perut

Sedangkan dalam komunitas stand up, ia merasa sangat diterima bahkan hasratnya untuk menyalurkan hobi melucunya pun ia dapatkan.

“Saya dasarnya memang orang yang suka berteman dengan banyak orang, dan di komunitas inilah saya mendapatkannya. Padahal awalnya saya juga hanya mencoba karena tertarik sekaligus penasaran ketika melihat komika di salah satu stasiun TV swasta, dan ternyata tanggapan masyarakat juga sangat bagus menerima kehadiran para komika ini, akhirnya saya memutuskan untuk terus berkomedi,” bebernya.

Gamayel merupakan komika type story telling (menceritakan kembali-red) apa yang dialaminya selama menjadi seorang polisi, bahkan hingga kehidupan keluarga kecilnya.

“Keresahan saya sebagai seorang polisi, dan cerita sedikit mengenai keluarga saya, beberapa pengalaman saya selama menjadi seorang polisi, hingga kehidupan seorang polisi itu seperti apa, menjadi materi-materi komedi yang saya sampaikan ke penonton,” terang ayah dari 1 putri ini.

“Sebenarnya, materi yang saya bawakan juga memiliki pesan khusus didalamnya. Untuk merubah asumsi masyarakat selama ini yang menganggap kami para polisi hanya bisa tegas dan cenderung galak. Inilah yang mau saya ubah, bahwasannya polisi juga bagian dari masyarakat, dan tidak ada yang perlu ditakutkan dari seorang polisi,” imbuh pria kelahiran Balikpapan, 30 Mei 1984 ini.

Dikatakannya, jika biasanya dalam penyampaian materi penyuluhan, polisi terkenal membosankan, justru melalui media stand up inilah ia bisa memberikan suguhan berbeda.

“Misalnya seperti yang pernah saya alami, ketika memberikan penyuluhan di sekolah, biasanya para murid mengantuk karena sedari awal anggapan mereka terpaku pada bahan penyuluhan saya yang cenderung monoton. Nah, lewat materi komedi, saya bisa lebih enak berkomunikasi dengan para murid,” katanya.

Sedangkan awal mula ia terjun dalam Stand Up Comedy Indonesia (SUCI), pria berusia 32 tahun ini menjelaskannya dengan gamblang.

“2013, dari Metro TV saya terpilih sebagai perwakilan dari stand up Balikpapan untuk ke Jakarta. Kemudian saya mengikuti SUCI 4 di Kompas TV tahun 2014, tetapi gagal. Tak putus asa, saya nekat mengulang lagi di audisi SUCI 6 tahun 2016, sebagai pembuktian diri bahwa saya seorang polisi juga bisa, dan ternyata lolos. Alhasil saya meminta izin ke kesatuan Balikpapan yang saat itu dipimpin Kapolres AKBP Jefri, dan mendapat dukungan luar biasa, bahkan saya diiming-imingi hadiah jika saya bisa meraih gelar juara. Inilah motivasi saya disamping keluarga saya, sampai akhirnya bisa menjadi juara 3 SUCI 6,” tutupnya.(bnc)