Mendagri : Radikalisme dan Terorisme Musuh Bangsa

 

SAMARINDA – Radikalisme dan terorisme adalah musuh bangsa yang harus diantisipasi dengan melakukan deteksi dini serta melibatkan seluruh komponen masyarakat.

Hal itu ditegaskan Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Tjahyo Kumolo saat mengunjungi korban peledakan bom Gereja Oikumene di RSUD Abdul Wahab Sjahranie (AWS) Samarinda, Minggu (20/11/2016) kemarin.

Menurut dia, tindak radikalisme dan terorisme harus diantisipasi secara serius serta harus melibatkan semua pihak tidak terkecuali masyarakat.

“Musuh saat ini bukan masalah pembangunan, tetapi radikalisme dan terorisme. Kita harus melakukan deteksi dini oleh seluruh komponen bangsa dan melibatkan masyarakat,” katanya sebagaimana dikutip beraunews.com dari laman resmi kaltimprov.go.id.

BACA JUGA : Mendagri Jenguk Korban Bom Samarinda

Tjahyo mengungkapkan keprihatinan pemerintah kepada para korban ledakan bom gereja Oikumene dan berharap aparat berwenang mengusut tuntas kasus peledakan tersebut.

Sementara itu Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kaltim mengimbau masyarakat agar lebih mewaspadai kemungkinan berkembangnya organisasi radikal yang dapat merusak kerukunan hidup antar umat beragama di Kaltim.

"Organisasi radikal ini nantinya bisa berkembang hingga membuat suatu gerakan yang bisa memicu sikap ekstrem dan berujung dengan aksi-aksi terorisme," kata Kepala Kesbangpol Kaltim Yudha Pranoto.

Menurut Yudha, kewaspaan masyarakat perlu dilakukan terhadap adanya perekrutan kelompok radikal yang berkedok kegiatan sosial, pendidikan dan kemandirian pangan karena pada umumnya kelompok-kelompok tersebut merekrut warga dan anak-anak yang labil dan sedang mencari jati dirinya.

"Awalnya, mereka masuk ke suatu tempat mendirikan organisasi atau kelompok untuk melakukan kegiatan sosial seperti membantu penanggulangan bencana alam, kebersihan dan kesehatan serta membantu orang susah. Tidak hanya itu, mereka juga melakukan hal positif lain seperti, bergerak pada pendidikan dan program kemandirian pangan. Setelah warga dan anak-anak yang labil terperangkap, barulah mereka merekrut warga dan anak-anak tersebut sebagai anggotanya untuk merusah kehidupan antar umat beragama di Kaltim" katanya.

Kesbangpol bersama jajaran Pemprov Kaltim, Polri, TNI, Forkopimda serta pihak terkait akan melakukan koordinasi dalam mencegah masuknya organisasi radikal di Kaltim.

"Yang jelas, kami mengimbau kepada masyarakat sekaligus orang tua agar bisa mengantisipasi serta waspada terhadap orang atau kelompok yang baru dikenal agar tidak terperangkap. Jika ada yang mencurigakan segeralah melapor pada pemerintahan atau petugas setempat," katanya.(rus/humasprov/bnc)