Tingkatkan Produksi Kakao di Kaltim

SAMARINDA – Wakil Ketua Komisi II DPRD Kaltim, Ali Hamdi mengatakan sebagai salah satu daerah penghasil kakao di Indonesia, maka Kaltim perlu meningkatkan produksinya guna mendukung target menjadi produsen kakao terbesar dunia.

Menurut Ali Hamdi, potensi perkebunan kakao Kaltim terbilang potensial karena Kaltim sejatinya salah satu penghasil kakao Indonesia. Meskipun arealnya relatif kecil dibanding dengan Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah, tetapi bagi petani di beberapa tempat di Kaltim, komoditi tersebut dijadikan sebagai mata pencaharian yang utama.

Beberapa daerah yang tercatat sebagai sentra penanaman kakao di Kaltim antara lain Kabupaten Berau (Kecamatan Talisayan), Kota Samarinda (Sempaja dan Berambai), dan Kabupaten Kutai Timur (Teluk Pandan). Dibeberapa tempat lainnya juga terdapat areal perkebunan kakao dalam luasan yang relatif kecil. Pada tahun 2015 luas areal tanaman kakao mencapai 8.197 hektar yang tersebar hampir di seluruh kabupaten/kota di Kaltim dengan produksi sebanyak 3.948 ton biji kakao.

“Sayangnya, produksi komoditas kakao tiap tahunnya cenderung menurun. Untuk itu diharapkan SKPD terkait, seperti Dinas Perkebunan (Disbun) Kaltim lebih serius menggenjot komoditas ini. Selain melakukan rehabilitasi dan perbaikan area kebun kakao, pemerintah juga diharapkan dapat menunjang operasional petani kakao,” harapnya sebagaimana dikutip beraunews.com dari laman resmi dprd-kaltimprov.go.id.

 

Politikus PKS ini menuturkan, komoditas ini harus lebih didorong mengingat agrobisnis adalah bidang yang digadang bakal melejit dan menjadi primadona PAD Kaltim mengimbangi pendapatan pertambangan dan sawit. Selain itu banyak potensi besar kakao jika diolah dan dikemas apik.

“Bukan rahasia lagi jika Arab Saudi menjadi konsumen besar olahan komoditas ini, dengan perhatian yang lebih pada komoditas ini bukan tidak mungkin Kaltim turut mendukung Indonesia untuk menjadi produsen kakao terbesar dunia,” tuturnya.(hms3/bnc)