Panwaslu Berau Temukan 3 Pelanggaran Pemilihan, dari Netralitas ASN Hingga Kepala Kampung

 

TANJUNG REDEB – Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) Kabupaten Berau, hingga kini telah memproses 3 temuan pelanggaran pada pelaksanaan Pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur Kaltim 2018, yang terdiri dari 2 dugaan tindak pidana pemilihan dan 1 dugaan pelanggaran administrasi.

Dua temuan dugaan tindak pidana pemilihan tersebut, yakni dugaan money politics oleh salah satu tim pasangan calon berinisial M saat kampanye di Kecamatan Gunung Tabur. Temuan lainnya, netralitas seorang kepala kampung yang diduga ikut mengkampanyekan salah satu pasangan calon, tepatnya dilakuakan oleh Kepala Kampung Biduk-Biduk berinisial AS. Sementara pelanggaran administrasi, terkait netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN), tepatnya dilakukan salah satu oknum guru SD di Kecamatan Batu Putih berinisial S yang bertempat tinggal di Talisayan, diduga berkomentar dan menyukai salah satu pasangan calon.

“Ketiganya merupakan temuan kami bersama Panwascam. Untuk temuan ASN, sudah kami rekomendasikan ke Sekda karena memenuhi unsur pelanggan administrasi pemilihan. Dugaan money politics, prosesnya sudah kami hentikan di Sentra Gakkumdu (Sentra Penegakan Hukum Terpadu-red) karena tidak memenuhi unsur tindak pidana pemilihan. Sementara, untuk kepala kampung yang diduga ikut mengkampanyekan salah satu pasangan calon, memenuhi unsur tindak pidana pemilihan dan sudah kami teruskan ke penyidik dalam sentra gakkumdu pada tanggal 20 April 2018 lalu,” ungkap Ketua Panwaslu Berau, Nadira saat dikonfirmasi beraunews.com, baru-baru ini.

Khusus Kepala Kampung Biduk-Biduk yang diduga ikut mengkampanyekan salah satu pasangan calon, Nadira menjelaskan, saat pasangan calon nomor urut 1 melakukan kampanye di Biduk-Biduk pada tanggal 11 April 2018 sekitar pukul 21.00 Wita, AS tanpa diminta langsung ikut naik ke atas panggung ikut berjoget dan mengacungkan jari 1 yang mengisyaratkan nomor pasangan calon di depan warga yang tengah menyaksikan kampanye.

“Sebenarnya paslon (pasangan calon-red) sudah mengingatkan, dalam kampanye ini, dia tidak boleh melibatkan kepala kampung dan aparat kampung, tapi dia (AS-red), tetap tidak mendengarkan dan ikut berjoget mengacungkan jarinya. Itulah makanya menjadi temuan Panwascam Biduk-Biduk. Apalagi, kami juga telah melakukan sosialisasi di Biduk-Biduk dan kampung lainnya bersama kepolisian,” bebernya.

 

Pihaknya pun, lanjut Nadira, segera melakukan klarifikasi kepada yang bersangkutan pada tanggal 17 April 2018. Dimana, Kepala Divisi Pencegahan dan Hubungan Antar Lembaga (PHL) Panwaslu Berau, Tamjidillah Noor bersama 4 orang penyidik dari Polres Berau (bagian dari Sentra Gakkumdu) turut serta ke Biduk-Biduk.

“Klarifikasi kami lalukan langsung di Biduk-Biduk, karena peristiwa dan saksi, pelapor, terlapor semua ada di sana,” ujarnya.

Sementara itu, Tamjidillah Noor mengatakan, terkait dugaan tindak pidana pemilihan, pihaknya berkeyakinan telah memenuhi semua unsur. Pasalnya, seluruh alat bukti sudah dimiliki pihaknya, berupa video, foto hingga saksi yang terdiri dari masyarakat, Pengawas Pemilu Lapangan (PPL) dan Panwascam sebagai pelapor.

“Tindakan kepala kampung ini melanggar ketentuan Pasal 188 juncto Pasal 71 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 10/2016, dengan sanksi minimal kurungan penjara 1 bulan, maksimal 6 bulan, dengan denda Rp600 ribu sampai Rp 6 juta. Selain itu, tindakan kepala kampung ini juga melanggar Undang-Undang Nomor 7/2017 tentang ASN dan Undang-Undang Nomor 6/2014 tentang Desa,” tuturnya.

“Kami mengimbau agar jangan sampai ada kepala kampung ataupun ASN yang ikut kampanye,” tambahnya.

Dikonfirmasi beraunews.com melalui saluran selular, Jumat (04/05/2018), Kepala Kampung Biduk-Biduk, AS mengakui apa yang dilakukannya. Bahkan, ia sudah memenuhi 2 kali panggilan dari pihak kepolisian.

“Tapi saat saya melakukan itu, saya sama sekali tidak mengetahui kalau hal tersebut melanggar Undang-Undang. Tidak ada juga yang memberitahu sebelumnya dari pihak manapun. Saya melakukan itu, karena Sofyan Hasdam berjasa dengan saya, dialah yang mengobati saya saat sakit stroke dulu. Jadi, sudah saya anggap keluarga sendiri, makanya saat dia bersilaturahmi, saya sangat senang dan menghadirinya,” tandasnya.(NR Dewi/bnc)