Kekuasaan dan Materi, Tak Selamanya Jadi Jaminan Terpilihnya Seseorang

TANJUNG REDEB – Kekuasaan, dukungan elit politik hingga kekuatan materi, tak selamanya menjadi jaminan, terpilihnya seseorang dalam hajatan politik. Setidaknya, hal ini yang menjadi realita pada pemilihan kepala kampung (Pilkakam) di salah satu kampung yang diduga ada di Kecamatan Teluk Bayur.

Keadaan tersebut, disampaikan oleh Handhika Bahaduri melalui akun media sosial facebook miliknya, Kamis (26/10/2017) lalu, saat dirinya datang bertakziah (mengunjungi keluarga orang yang meninggal dunia dengan tujuan menghiburnya) ke rumah seorang kawan di kawasan Jalan P. Diguna.

Dikatakannya, dalam obrolannya, kawannya sempat menanyakan, bagaimana bisa sahabatnya menang mutlak dalam pemilihan Kepala Kampung, sementara lawan politiknya adalah orang yang punya kuasa dan di belakangnya berderet begitu banyak dukungan, baik materi maupun dari para elit politik Kabupaten.

"Pertanyaannya itu kemudian saya jawab, bahwa sebatas yang saya tahu dan saya yakini, ia menjalaninya dengan sabar, dengan semangat bukan untuk mengalahkan atau menyakiti lawannya, lagi pula ia maju menjadi calon bukan lantaran ambisi pribadi, namun karena dorongan dari para sepuh serta warga di Kampung," ujarnya.

Mendengar jawaban itu, tutur Handhika, kawannya lalu berpendapat bahwa, bukannya model politik, baik di pusat, provinsi, kabupaten hingga kampung, selama ini, tak mungkin bisa duduk berkuasa jika kemudian meyakini idealisme seperti ini? Bukankah siapa yang punya uang, maka ia yang berkuasa? Mendengar pertanyaan begitu, Handika lalu menjawab, justru model berpolitik yang sedang berlaku dan terlanjur mapan sekarang ini, itulah yang seharusnya dirubah haluannya. Sebab, sejatinya politik itu suci, politik itu mulia, politik itu panglima.

"Jika dalam berpolitik yang berlaku adalah dengan cara pragmatis yang mengabaikan segala nilai, norma dan aturan main yang seharusnya, maka yang dapat kita semua panen adalah hanya sebatas kerugian demi kerugian belaka, seperti yang sekarang dialami oleh kondisi Negara kita," tegasnya.

"Sebab bukankah sudah menjadi rumusnya, bahwa tak ada satupun manfaat keuntungan yang kita dapat jika cara menjalaninya melenceng dari nilai-nilai keyakinan, mengabaikan kebenaran, dan menolak untuk menjadi sabar, sehingga dikuasai ambisi untuk mengalahkan dan menyakiti. Perspektif ini saya dapat dari membaca Wal 'Asri, dan semoga saya pribadi bisa tetap terus menggenggamnya hingga nanti mati," tandasnya seraya mengucapkan belasungkawa atas duka yang dialami kawannya tersebut.(bnc)