Pilgub Kaltim 2018 Dipastikan Satu Putaran

 

TANJUNG REDEB – KPU Kaltim memastikan Pemilihan Gubernur (Pilgub) 2018 akan berlangsung satu putaran. Pasalnya, pilgub kali ini tak menggunakan lagi sistem 50 persen plus 1 suara. Sehingga, pemenang akan ditentukan dari perolehan suara terbanyak. Hal tersebut diungkapkan Komisioner Divisi Hukum KPU Kaltim, Viko Januardhy

Dikatakan Vico, berdasarkan amanah Pasal 109 UU Nomor 10/2016 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2015 Tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 Tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Walikota Menjadi Undang-Undang, maka dalam Pilgub 2018 mendatang, apabila dalam perolehan suara nanti ada pasangan calon (paslon) yang memperoleh suara tertinggi, meskipun belum mencapai perolehan suara 50 persen plus 1 suara, maka secara otomatis paslon itulah yang ditetapkan sebagai pemenang pilgub Kaltim 2018, kecuali jika ada gugatan ke Mahkamah Konsititusi (MK).

"Dalam Pilgub 2018 ini, sudah tidak lagi mengenal dua kali putaran. Dua kali putaran hanya berlaku di Pilkada DKI Jakarta saja. Di daerah termasuk Kaltim, hanya satu kali putaran. Jadi, berapapun suara, meskipun dari para paslon itu belum ada yang memperoleh suara 50 persen plus 1, maka paslon yang memperoleh suara tertinggi yang secara otomatis terpilih menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Kaltim,” kata Viko saat berkunjung ke redaksi beraunews.com, didampingi Vidi Gatot Setiabudi dari Sekretariat KPU Kaltim, dan Ketua KPU Berau, Roby Maula, disela-sela kegiatan supervisi dan monitoringnya ke KPU Berau, baru-baru ini.

Vico menuturkan, sekalipun ada paslon hanya memperoleh suara 30 persen dari total suara, namun, jika raihan suaranya paling tinggi dibandingkan paslon lainnya, maka otomatis calon itulah yang dinyatakan sebagai pemenangnya.

"Biar hanya 30 persen, tapi perolehan suara tertinggi dibandingkan paslon lainnya, maka secara otomatis calon itulah yang kami kukuhkan sebagai pemenangnya," tegasnya.

Lalu bagaimana jika terdapat paslon yang suaranya sama, ditanya seperti itu Vico mengatakan, dalam hal terdapat jumlah perolehan suara yang sama diantara paslon, jelas Vico, maka paslon yang memperoleh dukungan pemilih yang lebih merata penyebarannya di seluruh kabupaten/kota yang akan ditetapkan sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih.

“Begitu juga ketika ada satu paslon yang memperoleh suara lebih dari 50 persen dari suara sah, maka paslon itulah yang ditetapkan sebagai pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih,” tutupnya.(*/bnc)