Yusran : PPU dan Kaltim Hanya Dieksploitasi Pemerintah Pusat

 

PENAJAM - Kondisi daerah di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), termasuk di Kaltim saat ini, yang bisa dibilang menerima ketidakadilan selama puluhan tahun dari pemerintah pusat, lantaran Sumber Daya Alam (SDA) hampir seluruhnya tereksploitasi, juga mendapat sorotan dari Bupati Penajam Paser Utara, Yusran Aspar.

Ia merasa prihatin melihat kondisi daerah di Kabupaten PPU. Menurutnya, Kaltim merupakan provinsi penyumbang terbesar bagi pemerintah pusat, namun melihat kondisi Kaltim yang dapat dikatakan masih memiliki sisa-sisa SDA lumayan besar, tetapi kondisi pembangunan insfrastruktur jalan di seluruh penjuru Kaltim dapat dikatakan belum memenuhi harapan, dan berbanding jauh dengan pembangunan insfrastruktur jalan di daerah-daerah di Pulau Jawa.

“Dengan kekayaan yang dimiliki Kaltim saat ini, berbanding terbalik dengan keadaan daerah kita saat ini. Kondisi jalan lintas Kaltim sebagian mengalami persoalan, berbanding jauh dengan jalan-jalan di pulau Jawa sana. Bagaimana kalau Kaltim sudah tidak mempunyai sumber daya alam lagi ke depan? Kasihan anak-cucu kita pada era 2020 ke atas, semua itu harus kita pikirkan,” ungkapnya, seperti yang dikutip dari laman Kalamanthana, Jumat (09/06/2017).

Kata dia, luar Jawa tidak memperoleh perhatian yang proporsional dari pemerintah pusat, contohnya ya Kaltim. Padahal, jika dilihat secara teritorial luas Jawa hanya 5 persen dari luas seluruh Indonesia, tetapi 70 persen anggaran negara tersedot habis untuk Pulau Jawa.

“Suatu contoh kecil saja, jika setiap tahun Kaltim menyetor ke kas negara dari hasil migas sebesar Rp180 trilliun dan yang kembali ke Kaltim hanya antara Rp5-7 trilliun, maka bukankah ini sebuah penghisapan sumber daya alam ke Kaltim oleh pemerintah pusat?” kata Yusran.

Dengan kondisi ini, Yusran mengatakan sangat prihatin dan harus ada sebuah perubahan berarti di daerah ini. Terlebih kondisi sebagian SDA di daerah telah habis, hutan mulai gundul, batu bara habis dan berbagai kekayaan alam lainnya telah musnah, bagaimana nasib masa depan seluruh anak-anak di Kaltim, termasuk di Kabupaten PPU ini? Percuma mereka sekolah tinggi jika semua SDA telah habis.

“Kami selalu memikirkan pembangunan untuk masa depan anak-anak kita. Jujur saja, bila seluruh SDA ini telah tiada, apa yang akan digunakan untuk membiayai seluruh pembangunan di Daerah? Misalkan pembangunan jalan, sekolah, rumah sakit, fasilitas air bersih dan sebagainya, yang semua itu memang harus dipersiapkan sejak saat ini untuk anak-anak kita mendatang memasuki tahun 2020,” kata dia.

Semua itu, sebut Yusran, harus dipersiapkan sejak saat ini. Salah satu yang menjadi perjuangan bagi Pemerintah Kabupaten PPU adalah melalui sektor minyak bumi dan gas (migas) yang memang masih dapat diandalkan bagi pendapatan daerah di PPU. Terkait itu, kata dia, rencananya Pemkab PPU akan melakukan kerja sama dengan Kabupaten Siak terkait pengelolaan migas di Kabupaten PPU.

“Kabupaten Siak merupakan salah satu daerah sukses penghasil dan pengelola minyak bumi dan gas (Migas) serta memiliki pengalaman lebih dalam hal pengelolaan migas. Mereka juga telah bersedia untuk membantu kita dan bekerja sama terkait pengelolaan migas yang ada di daerah kita,” jelas Yusran.

Langkah-langkah lain yang harus dilakukan dalam melakukan persiapan bagi daerah saat ini tentunya adalah hilirisasi harus segera dilakukan jika tidak ingin Kabupaten PPU, termasuk Kaltim, kemudian hari akan kehilangan kesempatan untuk memperoleh nilai tambah dari SDA yang dimilikinya.

Diantaranya seperti pembangunan pengolahan hasil pertanian dan mekanisasi pertanian, revitalisasi budidaya tambak dan industri pengolahan atau pengalengan ikan, dan promosi ecotourism sektor pariwisata alam, dimana itu adalah prioritas-prioritas yang harus disiapkan demi masa depan generasi muda daerah.

“Tentu semua usaha tersebut memerlukan perjuangan yang besar demi kehidupan yang layak bagi generasi dan anak-cucu kita ke depan,” pungkasnya.(adv/humas-ppu/hr/bnc)