Baru Rita, Pilgub Kaltim “Terkesan” Kekurangan Figur Bakal Calon

 

TANJUNG REDEB – Tahapan pemilihan umum kepala daerah (Pilkada) Kalimantan Timur (Kaltim) akan dimulai pada Agustus 2017 mendatang. Akan tetapi, hingga saat ini, bakal calon kepala daerah (Gubernur dan Wakil Gubernur) Kaltim belum ada yang secara terbuka menyatakan kesiapan dirinya.

Kecuali, dari Partai Golongan Karya (Golkar) Kaltim, yang telah menetapkan ketuanya, Rita Widyasari sebagai bakal calon tunggal Gubernur pada Pilkada serentak 2018 itu. Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) dua periode itu, juga telah didukung dengan jumlah keterwakilan Partai Golkar di DPRD Kaltim, yakni sebanyak 13 kursi atau sebesar 23,64 persen dari total kursi DPRD Kaltim pada pemilihan legislatif (Pileg) 2014 lalu.

Sebagai informasi, menurut Undang-Undang (UU) Nomor 8/2015 tentang Pilkada Pasal 39 menyebutkan, peserta pemilihan adalah calon gubernur dan calon wakil gubernur, pasangan calon bupati dan wakil bupati serta pasangan calon walikota dan wakil walikota yang diusulkan oleh partai politik atau gabungan partai politik; dan/atau pasangan calon perseorangan yang didukung oleh sejumlah orang. Partai politik dimaksud, dapat mendaftarkan pasangan calon jika telah memenuhi persyaratan perolehan paling sedikit 20 persen dari jumlah kursi DPRD atau 25 persen dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu Anggota DPR, DPD dan DPRD di daerah yang bersangkutan.

Sementara, berdasarkan data jumlah kursi perwakilan partai politik di DPRD Kaltim untuk periode 2014-2019, partai politik lainnya dinilai belum mampu menyaingi partai berlambang pohon beringin tersebut. Jika murni hanya mengandalkan jumlah kursinya di DPRD Kaltim, tanpa berkoalisi dengan partai lainnya juga.

Seperti, berada di bawah bayang-bayang Partai Golkar, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) baru mampu meraup 18,18 persen kursi DPRD Kaltim pada Pileg 2014 lalu sehingga hanya memiliki 10 kursi wakil rakyat di DPRD Kaltim. Hal ini tentu langsung membuyarkan angan-angan partai berlambang ganteng itu untuk dapat mengusung kadernya sendiri sebagai bakal Cagub dan Cawagub, tanpa berkoalisi dengan partai politik lainnya.

Selanjutnya, disusul Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) dengan 6 kursi atau 10,91 persen. Kemudian, Partai Demokrat, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Keadilan Sejahtera harus puas berbagi kursi yakni masing-masing sebanyak 4 kursi atau sebesar 7,27 persen. Dan, posisi terendah dipegang Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Nasional Demokrat (NasDem) dengan jumlah kursi masing-masing sebanyak 3 kursi atau 5,45 persen.

Dinamika Pilgub Kaltim yang ada saat ini, dinilai beberapa pihak karena dipengaruhi oleh minimnya figur ketokohan bakal Cagub dan Cawagub, yang selama ini kurang terlalu dikenal luas oleh masyarakat Kaltim. Kalaupun ada yang dikenal, biasanya hanya dikenal pada satu atau dua wilayah di tingkat kabupaten/kota yang ada di Kaltim.

Misalnya, sejumlah nama bakal calon yang diberitakan akan meramaikan Pilgub Kaltim, seperti Walikota Samarinda Syaharie Jaang, Walikota Balikpapan Rizal Effendi, Bupati PPU Yusran Aspar, mantan Bupati Berau, Makmur HAPK, mantan Bupati Kutai Timur Isran Noor, mantan Walikota Bontang Sofyan Hasdam, hingga mantan Wakil Gubernur Kaltim Farid Wadjdy.

Khusus Partai Golkar sendiri, setelah mendeklarasikan ketuanya sebagai bakal calon tunggal Gubernur Kaltim untuk periode 2018-2023, tentu saat ini tengah bersiap melakukan tahapan penjaringan bakal Cawagub yang akan mendampingi anak kandung pendekar politik Kaltim, (Alm) Syaukani Hasan Rais. Dan, beberapa pihak pun mulai berspekulasi akan pendamping tersebut.

Misalnya, perhitungan kekuatan real mereka yang dihitung berdasarkan perolehan suara ketika terpilih menjadi bupati atau walikota, jika bergabung merebut kursi Gubernur dan Wagub Kaltim. Termasuk, berdasarkan jumlah pemilih di masing-masing kabupaten/kota yang dapat tergambar melalui Daftar Pemilih Tetap (DPT) pada Pilkada serentak 2015 lalu.

 

Dimana, total DPT pada Pilkada serentak 2015, yakni 2.451.414 pemilih. Dengan rincian, Kota Samarinda sebanyak 588.109 pemilih (23,99 persen), Kabupaten Kukar sebanyak 533.028 pemilih (21,74 persen), Kota Balikpapan sebanyak 461.422 pemilih (18,82 persen), dan Kabupaten Kutai Timur (Kutim) sebanyak 262.559 pemilih (10,71 persen).

Selanjutnya, Kabupaten Paser sebanyak 179.370 pemilih (7,32 persen), Kabupaten Berau sebanyak 155.732 pemilih (6,35 persen), Kabupaten Kutai Barat (Kubar) sebanyak 125.290 pemilih (5,11 persen), Kota Bontang sebanyak 124.519 pemilih (5,08 persen), dan terakhir, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) sebanyak 21.385 pemilih (0,87 persen).

Dengan demikian, urutan pertama dipegang pasangan Rita Widyasari-Syaharie Jaang, urutan kedua Rita Widyasari-Rizal Effendi, urutan ketiga Rita Widyasari-Isran Noor, urutan keempat Rita Widyasari-Makmur HAPK, dan urutan kelima Rita Widyasari-Yusran Aspar. Selanjutnya, ada Rita Widyasari-Sofyan Hasdam, Rita Widyasari-Farid Wadjdy dan lainnya.

Tapi, 2018 tinggal beberapa bulan lagi, bagaimanakah perkembangan selanjutnya pesta demokrasi di Bumi Etam ini. Partai Gerinda dengan niatannya mengusung kadernya sendiri, Yusran Aspar sebagai bakal Cagub, begitu juga Partai Demokrat dengan Syaharie Jaang, dan termasuk PDI-P dengan kadernya sekaligus anak Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Awang Ferdian Hidayat. Kita tunggu saja!(bnc)

Wartawan: Andi Sawega/Editor: R. Amelia