Hadi Dampingi Rita Widyasari???

 

TANJUNG REDEB - Dalam kesempatannya menyampaikan sambutan pada acara pelantikan pengurus DPD Partai Golkar Tingkat II Kabupaten Berau, beberapa waktu lalu, Bupati Berau, Muharram, menyampaikan jika dirinya selaku Bupati yang secara ex-officio sebagai pembina partai politik, maka dirinya akan mengembangkan sistem demokratisasi sebaik mungkin di Berau.

Untuk itu, ia mengatakan akan berdiri di tengah-tengah seluruh partai yang ada, meski statusnya sebagai seorang pemimpin yang bernaung di bawah Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

"Saya ingin sampaikan kepada kita semua, meskipun saya seorang Kader PKS, tapi sebagai pemimpin yang ingin membangun demokratisasi yang baik di daerah kita ini sesuai kondisi yang ada, saya katakan bahwa saya saat ini berdiri di tengah seluruh Partai, bukan lagi hanya PKS saja," ujarnya.

Hal tersebut ia lakukan agar menguatkan kebersamaan seluruh partai, yang meski berbeda langkah namun tetap satu tujuan, yakni membangun Berau menjadi lebih baik.

"Mengapa demikian? Karena bagi saya tidak ada yang terlalu perlu dirisaukan dalam politik, sebab apa yang menjadi tujuan kita adalah sama, membangun Berau menjadi daerah yang unggul. Kita semua adalah anak bangsa yang berhak berkontribusi dan berpartisipasi membangun daerahnya, hanya saja perahu kita yang berbeda," katanya.

BACA JUGA : Hadi Mustafa Resmi Dilantik sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Berau

Terkait hal itu, ia juga menyampaikan bahwa demokratisasi yang ia maksud terbuka bagi siapapun dan dari kalangan partai manapun. Sehingga ia pun juga meminta kepada seluruh pihak dari partai manapun untuk mendukung dirinya dalam menjalankan tugas sebagai Bupati saat ini.

“Saya kira tidak salah saya katakan ini terbuka untuk semua, karena jadi Bupati itu juga tidak terlalu enak-enak banget. Repotnya luar biasa, capek luar biasa. Makanya kalau diambil saya juga tidak terlalu keberatan sebetulnya. Tapi maksud saya, setelah 10 tahunlah baru diambil, masa baru 5 tahun langsung mau diambil? Pak Makmur dulukan 10 tahun juga, mungkin saya tunggu 10 tahunlah baru direbut, berikan juga kesempatan kepada yang muda-muda ini untuk berpartisipasi,” tambahnya berkelakar.

Selain itu, ia juga turut mendoakan agar di tahun 2018, Ketua DPD I Partai Golkar Kaltim, Rita Widyasari, yang sekaligus merupakan calon tunggal Gubernur Kaltim, yang diusung Partai Golkar, dapat resmi menempati posisi tersebut.

“Dan mudah-mudahan kata calon ibu Rita ini pada periode 2018, tidak lagi disebut calon tetapi Gubernur,” ucapnya.

Dalam kesempatan tersebut pula, ia juga mengapresiasi baik apa yang dilakukan Partai Golkar. Bahkan, ia juga berbagi cerita mengenai pengalamannya yang pernah memegang kartu sebagai anggota partai kuning tersebut.

"Saya kagum dengan Partai Golkar ini, begitu piawai mereka melakukan segala susunan acara di pelantikan ini. Ini bisa jadi pembelajaran bagi kita partai lain yang belum seperti ini, baik dari menyanyikan mars mereka dan lain-lain. Asal tahu saja, saya juga pernah mengantongi kartu anggota sebagai Partai Golkar, saat masih jadi mahasiswa di tahun 1987 silam, dan saya masih ingat yang menandatangani itu pak Zainal Abidin, waktu masih jadi Sekretaris," tuturnya.

Meski bernaung di bawah PKS, ia juga tidak memungkiri Partai Golkar merupakan partai besar dan tersebar di seluruh Indonesia. Sehingga, dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin daerah, ia pun banyak meminta masukan kepada para senior partai lainnya.

"Di negeri ini, kalau kita mau jujur, sebaran partai politik yang ada kebanyakan berawal dari kader Partai Golkar, didikan Partai Golkar. Itu harus diakui juga. Maka dalam membangun Berau ini, saya juga masih membutuhkan masukan dari para senior agar kami tidak salah langkah," tambahnya.

Sebagai penutup dari sambutannya, Muharram, juga sempat menyinggung terkait keterbukaan PKS untuk menjadi calon Wakil Gubernur, dari Partai Golkar. Namun, pihaknya juga tetap mendukung ketika calon Wakil Gubernur, yang mendampingi Rita, berasal dari Partai Golkar sendiri.

“Kami Partai Keadilan Sejahtera terbuka untuk menjadi wakil dari ibu Rita. Tidak mesti Muharram mungkin ada yang lain, seperti misalnya Hadi Mulyadi atau yang lainnya. Tetapi ketika juga dianggap bahwa dengan kekuatan rumah sendiri, dengan kader sendiri saya kira pak Makmur HAPK juga bisa dipertimbangkan,” tuutpnya.(bnc)

Wartawan: Marta/Editor: R. Amelia