Hadi Mustafa Resmi Dilantik sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Berau - Menahan Panas Tanpa Alas Kaki Demi Tampil Maksimal

 

TANJUNG REDEB – Selain kehadiran DPD I Partai Golkar Kalimantan Timur (Kaltim), Rita Widyasari yang menjadi sorotan, penampilan penari dari sanggar tari Pulu Batung Berau, juga menyedot perhatian.

Sebagai pembuka acara pelantikan pengurus DPD partai Golkar, tarian ‘Babada’ (Banua, Bajau, Dayak) ditampilkan secara khusus guna menyambut kedatangan Rita Widyasari.

Dijelaskan Erson Susanto, Ketua sekaligus Pembina sanggar tari, persiapan tarian ini sudah sejak lama lantaran Babada merupakan tarian yang sudah dibakukan Pemkab Berau.

“Sejak masih pak Makmur yang menjabat sebagai Bupati Berau, tarian kolaborasi ini sudah dibakukan, dan memang sering ditampilkan di hadapan tamu-tamu besar, yang berkunjung ke Bumi Batiwakkal. Hanya saja, dari segi penggarapan memang berbeda, tergantung lokasi tampilnya apakah di dalam ruangan atau di luar ruangan,” terangnya kepada beraunews.com, Jumat (10/02/2017).

Untuk acara pelantikan pengurus partai Golkar ini, diakui Erson, latihan dilakukan lebih maksimal. Terlebih untuk acara-acara penyambutan yang harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi.

“Seperti untuk tampil di acara Golkar ini, kami tak hanya menyesuaikan kostum penari dan pemusik dengan warna yang sesuai, tetapi untuk sarana pelengkap tarian juga disesuaikan, dalam hal ini kami menggunakan bendera Partai Golkar,” jelasnya.

 

Sedangkan konten atau isi tarian, untuk acara penyambutan tamu biasanya 70 persen merupakan tari daerah atau keasliannya, dan 30 persennya modifikasi kreativitas dari penari. Babada, merupakan kolaborasi tarian Bajau (tari pesisir), tarian Banua (tari Jepen), dan tarian suku Dayak pedalaman (tarian Suku Dayak Kenyah)

Penari yang tergabung dalam performance (penampilan) ini juga dari berbagai sekolah di Kabupaten Berau, mulai dari jenjang SD, SMP dan SMA.

“Khusus untuk penampilan hari ini, kami menggunakan postur tinggi badan sebagai patokan. Jadi, untuk tarian Bajau dilakukan oleh anak-anak SD, tarian Banua atau Jepen dilakukan anak SMP, dan tarian Suku Dayaknya dilakukan oleh tingkat SMA,” imbuh Erson.

Demi kelancaran dan suksesnya penampilan, bahkan para penari bersedia melakukan tarian tanpa menggunakan alas kaki di tengah cuaca terik. Ditanya mengenai hal ini, Erson pun menjelaskan jika hal ini merupakan bentuk komitmen mereka untuk memberikan tampilan terbaik.

 

“Mereka sudah biasa menari tanpa alas kaki. Tempat latihan kami kan juga hanya berupa cor-coran semen. Jadi, ketika mereka berlatih tak hanya sekadar bergerak atau menari, tetapi juga ada olah tubuh, pernafasan, dan memberikan pendidikan bahwa budaya ini seperti ini, aslinya ya memang tanpa alas kaki,” bebernya.

Dalam penampilan kali ini, sanggar Tari Pulu Batung menurunkan 25 penari dalam 3 formasi, dan 9 orang pemusik, dimana Kolintangan, Tambur, dan Gong adalah alat musik Bajau, Gambus, Hadrah, dan Rebana untuk alat musik Jepen atau Banua, dan Sampe sebagai alat musik Suku Dayak.(bnc)