Makmur HAPK-Muharram Saling Curhat Dalam Kebaikan

 

TANJUNG REDEB – Bupati Berau Muharram dan mantan Bupati Berau, Makmur HAPK, saling curhat terkait keharmonisan hubungan keduanya pasca pilkada Berau tahun 2015 lalu. Hal itu terjadi ketika kedua tokoh politik ini berkesempatan memberikan sambutan pada deklarasi Lambaga Mufakkat Urang Banua (Lamuba), di halaman Keraton Sambaliung, Jum’at (30/12/2016) lalu.

Dalam sambutannya, Ketua Dewan Majelis Tinggi Lamuba, Makmur HAPK berpesan pada Muharram agar memperhatikan keberadaan masyarakat Berau. Pesan ini penting, sebab istri Muharram juga merupakan warga asli Berau. Selain itu, Makmur juga menitipkan seluruh PNS di lingkup Pemkab Berau yang pernah mengabdi pada dirinya ketika masih menjabat sebagai Bupati Berau.

“Bapak akan tahu nanti yang mana perak dilapis emas, pasti akan kembali jadi perak. Jadi saya titip orang Berau, titip staf saya di dalam sana. Seketika bapak jadi Bupati, pasti dia loyal kepada bapak. Bohong itu tidak loyal,” ujarnya.

Dikatakan Makmur, selama kepemimpinannya, dirinya tidak pernah membeda-bedakan suku dalam meletakkan posisi dan jabatan seorang pegawai dan pejabat di lingkup Pemkab Berau. Sebab, itu akan meningkatkan loyalitas seorang pegawai maupun pejabat sipil.

“Inilah pesan moril saya, mohon maaf kalau ada salah. Kalau itu baik diambil, kalau tidak bermakna dibuang jauh-jauh. Ini pesan-pesan saya, Insya Allah kita bersinergi. Kita baik-baik, yang berlalu kita lupakan,” katanya.

Selain itu, tambah Makmur, dirinya juga siap menerima dan melayani Muharram jika ingin bersilaturahmi ke kediamannya. Hal ini sekaligus menepis anggapan jika dirinya belum bisa menerima Muharram sebagai Bupati Berau saat ini.

“Nanti kalau memang Bapak mau ke rumah 10 kali atau 100 kali kah, saya buka pintu dan selalu siap. Tetapi, saya ingatkan, tidak benar bahwa saya tidak bisa menerima (Muharram jadi Bupati-red),” tambahnya.

Mendengar curhatan Makmur itu, Muharram juga langsung membalas curhatan seniornya tersebut. Jika ada selentingan yang menganggap dirinya melarang pegawai maupun pejabat di lingkup Pemkab Berau untuk bersilaturahmi ke kediamanan Makmur, tegas Muharram, dirinya membantah hal itu. Itu merupakan sebuah kekeliruan yang besar.

Seingat Muharram, dirinya tidak pernah sekalipun mengeluarkan sepatah kata yang menyebutkan larangan bagi pegawai maupun pejabat di lingkup Pemkab Berau untuk bersilaturahmi ke kediaman mantan Bupati Berau tersebut.

“Demi Tuhan saya tidak pernah melarang pejabat-pejabat untuk bersilaturahmi ke rumahnya Kak Makmur, tidak pernah. Tunjukan di depan saya kalau ada pernah pejabat atau pegawai yang saya larang datang ke rumahnya Kak Makmur, tidak pernah,” tegasnya.

Terkait isu larangan itu, lanjut Muharram, tentu sangat liar dan tidak mendasar. Justru, dirinya sudah pernah berkunjung ke kediaman Makmur, dan  alangkah baiknya kalau Makmur selaku senior kepala daerah juga bersilaturahmi ke kediaman Bupati Berau.

“Saya juga kepengin Kak Makmur juga bersilaturahmi ke rumahnya Bupati,” lanjutnya seraya sorak tepuk tangan undangan yang hadir.

Hal itu, tambah Muharram, guna menyelesaikan segala pandangan dan masalah yang ada. Sebab, dirinya selaku adik juga sangat membutuhkan petuah maupun nasehat dari seorang mantan Bupati, yang telah menjabat selama 15 tahun sebagai kepala daerah.

“Saya ini adik dan saya butuh banget petuah-petuah dan nasehat dari senior, apalagi kakak. Jadi hari ini saya kira, kesempatan saya juga curhat. Kalau beliau curhat, saya juga ingin curhat,” tambahnya.

 

Selama itu, jelas Muharram, dirinya merasa sedih dan merasa ditinggalkan oleh seniornya. Sehingga, hubungan yang ada sebelumnya pun menjadi kurang harmonir. Padahal, kepemimpinan yang baik adalah ketika pemimpin terdahulu dan yang baru datang, itu harmonis.

Dirinya yakin ada trik maupun rahasia khusus yang dimiliki Makmur ketika menjabat sebagai Bupati kala itu, yang tentu terkait pembangunan di Kabupaten Berau. Dimana, dirinya tentu memerlukan trik dan rahasia tersebut.

“Yang perlu dipelajari dari senior boleh jadi terputus karena kurangnya hubungan kita. Kita hanya ketemu dalam acara-acara seremonial dan acara formal, tapi alangkah baiknya suatu saat saya berkunjung, saya pun didatangi,” jelasnya.

Terkait 3 kali katanya dirinya difasilitasi untuk bertemu Makmur, Muharram menegaskan, dirinya juga tidak pernah mendengar atau mendapatkan langsung informasi itu. Sehingga, itu hanya sebatas isu yang dikembangkan oleh orang lain.

“Bahkan saya pernah ketika menjelang Pilkada di depan Ibu Marawiyah dan Pak Makmur, saya katakan biarpun saya ini dengan istri saya disiram satu lautan air supaya hubungan kekeluargaan ini putus, itu tidak akan pernah bisa. Karena kebetulan istri saya adalah sepupu sekalinya Pak Makmur dan saya kebetulan punya keturunan dan tentu ini tidak bisa memutus hubungan kekeluargaan diantara kita. Apalagi hanya karena jabatan,” tegasnya.

Untuk itu, Muharram mengambil kesimpulan bahwa masa lalu biarlah itu bagian dari sejarah dan dirinya mengajak seluruh pihak untuk berpikir tentang bagaimana membangun Kabupaten Berau yang lebih baik. Dirinya mengharapkan selalu masukan dan nasehat dari Makmur HAPK dan juga mantan Wakil Bupati Berau, Ahmad Rifai yang juga hadir dalam kesempatan itu.

Tak lupa juga, Muharram mengungkapkan kesedihannya akan kondisi selama ini yang terjadi khususnya terkait ketidakharmonis hubungan dirinya dengan mantan Bupati Berau itu. Bahkan, dirinya pernah curhat dengan sang Istri, Sri Juniarsih yang merupakan kerabat dekat Makmur HAPK itu bahwa dirinya tidak ingin diantara keluarga ini terbangun sekat hanya karena urusan Pilkada.

“Saya ingin supaya rakyat Kabupaten Berau dipertontonkan bahwa pemimpin terdahulu dan pemimpin hari ini harmonis sehingga kami pun bisa tidur nyenyak karena saya terus terang merasa sedih. Demokrasi sudah selesai dan mari kita menatap masa depan Berau yang lebih baik,” pungkasnya.(Andi Sawega)