Catat, 15 Oktober Bulan Eliminasi Kaki Gajah

TANJUNG REDEB – Penyakit Kaki Gajah (Filariasis) merupakan golongan penyakit menular yang mengenai saluran dan kelenjar limfe dan disebabkan cacing filaria yang ditularkan melalui nyamuk. Penyakit ini bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin, baik pada perempuan maupun laki-laki.

Jumlah penderita penyakit kaki gajah atau filariasis di Indonesia mulai mengkhawatirkan. Tercatat, 105 juta penduduk tanah air rentan terserang penyakit tersebut. Penyakit kaki gajah umumnya banyak terdapat pada wilayah tropis. Saat ini, filariasis masih menjadi endemi di 241 kabupaten/kota di Indonesia, termasuk Kabupaten Berau.

Jadi daerah endemis, Pemkab Berau melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) pun mencanangkan Pemberian Obat Pencegahan Masal (POPM) Filariasis selama 5 tahun. Gerakan pengobatan serentak pencegahan penyakit kaki gajah ini dimulai pada tanggal 15 Oktober 2016, mendatang. Pencegahan yang dilakukan pada Bulan Eliminasi Kaki Gajah (Belkaga) itu, dengan memberikan obat kepada semua penduduk Kabupaten Berau yang rentan, mulai usia 2 tahun hingga 70 tahun.

Kepala Bidang Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Dinkes Berau, Andarias Baso mengatakan, penyakit itu sebetulnya terjadi pada daerah yang sanitasinya kurang baik. Seperti sekitar pasar dan daerah kumuh. Seseorang yang terinfeksi penyakit kaki gajah ini, sebetulnya dapat disembuhkan dengan pengobatan jangka panjang. Tapi kalau sudah besar, harus dengan tindakan operasi.

“Hari senin kemarin, ada rapat koordinasi dan sosialisasi terkait pemberian obat filariasis dalam rangka Belkaga se-Indonesia. Tahun pemberian obat pencegahan mulai tahun 2016 ini dan serentak di tanggal 15 oktober untuk tahun pertama di Berau. Ini selama lima tahun, satu kali dalam satu tahun. Berau dan Kutai Timur, ini baru tahun pertama sedangkan kabupaten lain di Kaltim sudah ada yang tahun ke- 4 seperti Paser,” katanya.

Di Kabupaten Berau ditemukan 3 kasus kaki gajah, yakni di Kecamatan Gunung Tabur, Segah dan Talisayan. Berdasarkan penelitian, dikatakan Andarias, lebih dari satu persen telah positif terkena filariasis, sehingga hal ini masuk dalam syarat untuk daerah harus melakukan pengobatan massal.

Untuk pencegahannya, hanya melalui pemberian obat kepada semua penduduk Kabupaten Berau yang rentan terjangkiti kaki gajah. Kecuali ibu hamil, pengindap sakit ginjal dan hati, epilepsi dengan sakit berat, dan anak kurang gizi (kawasiokor).

“Obatnya itu didroping dari pusat. Penyakit ini dapat menular dengan sembarang nyamuk. Misalnya, nyamuk ini menggigit pasien positif kemudian kita, langsung bisa menular cacingnya. Kalau deman berdarah masih lumayan karena nyamuk tertentu, kalau ini sembarang saja nyamuknya, sehingga gampang sekali menular,” tuturnya.

Melalui Belkaga ini, diharapkan Andarias, semua yang minum obat yang diberikan setahun sekali itu, dapat menurunkan angka penyakit kaki gajah di Kabupaten Berau.

“Diharapkan semua masyarakat, baik yang menderita kaki gajah atau yang tidak karena Berau termasuk daerah endemik, semuanya bisa minum obat untuk filariasis itu. Jangan sampai tidak di minum, apalagi ini cuma satu kali setahun. Obatnya dalam bentuk tablet,” pungkasnya.(sai)