Impian P2TP2A Untuk Anak Bermasalah Sosial

TANJUNG REDEB – Munculnya beberapa kasus sosial yang melibatkan anak usia dini hingga balita dan bayi, menjadi perhatian tersendiri bagi Fika Yuliana, yang baru-baru ini dilantik sebagai Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Berau.

Dikatakannya, saat ini semakin banyak anak-anak yang secara tidak langsung menjadi korban dari situasi dan kondisi orang tuanya. Baik itu orang tua yang tersandung kasus hukum maupun yang dengan sengaja menelantarkan anak mereka.

Agar tidak menjadi beban sosial tersendiri bagi anak-anak yang bermasalah sosial, diperlukan pendampingan khusus dari P2TP2A baik secara psikis, kesehatan, pendidikan maupun perekonomian.

Dalam proses pendampingan tersebut, diperlukan rumah aman (shelter) sebagai pusat rehabilitasi bagi anak-anak tersebut. Namun hingga saat ini memang shelter yang dimaksud belum ada. Padahal, kian hari jumlah kasus anak yang terjerat masalah sosial semakin bertambah.

“Ini menjadi PR bagi saya ke depan, harus ada rumah aman atau tempat perlindungan bagi anak-anak yang dalam masalah sosial,” ungkapnya kepada beraunews.com, Minggu (7/8/2016).

Kepedulian Pemkab terhadap anak-anak yang menjadi korban sosial sebenarnya sangat tinggi, namun ia menyadari untuk membangun shelter tersebut dalam waktu dekat kemungkinan tidak bisa dilakukan lantaran APBD sedang dalam kondisi tak stabil.

“Saya yakin Pemkab tidak akan tinggal diam juga melihat kasus-kasus anak yang terlantar dan sebagainya, dan saat ini saya tahu anggaran menurun jadi kita harus lebih bersabar, kalau pun tidak bisa membangun shelter paling tidak kita bisa menyewa rumah untuk dijadikan shelter bagi anak-anak ini,” ujarnya.

Beberapa contoh kasus anak yang terdampak masalah sosial dari orang tua mereka yang menjadi perhatian antara lain bayi IRT yang terjerat kasus narkoba berinisial Cc (22) di Mapolsek Tanjung Redeb dan bayi berusia sekitar 2 bulan yang ditinggal orang tuanya begitu saja di ruangan bayi RSUD dr. Abdul Rivai.(mta)