Bayi IRT Kasus Narkoba Diduga Kurang Gizi

TANJUNG REDEB – Kasus narkoba yang menjerat IRT berinisial Cc (22), warga Jalan Karang Ambun mendapat perhatian Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dan Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Berau, lantaran pelaku mendekam di Mapolsek Tanjung Redeb bersama dengan buah hatinya yang baru berumur sekitar 3 bulan.

Ketua BPPKB Berau, Wiyati yang ikut berkunjung bersama Ketua P2TP2A, Fika Yuliana mengungkapkan, tujuan kunjungan tersebut semata-mata memberikan bentuk kepedulian terhadap bayi pelaku yang saat ini masih ikut serta bersamanya, sementara suami pelaku juga terjerat kasus yang sama.

Meski orang tua sang bayi tersandung hukum, namun kewajiban untuk melindungi dan memenuhi hak bayi perlu dilakukan. Saat ini, kondisi bayi dalam keadaan kurang sehat, karena diduga mengalami gangguan kesehatan gurang gizi, sehingga untuk penanganan diperlukan perawatan lanjut di Rumah Sakit.

Hak sipil bayi tersebut, dikatakannya, seperti pembuatan akte kelahiran harus terpenuhi. Namun saat ini, pihaknya tidak bisa berbuat banyak untuk hal tersebut, lantaran identitas kependudukan orang tua bayi yang masih tidak jelas dan status pernikahan yang juga tidak memiliki surat nikah.

“Setelah kami lihat kondisinya tadi, memang ruangan di Polsek jauh lebih baik ketimbang di Rutan. Tapi kondisi kesehatan si bayi sepertinya perlu perawatan, kalau dilihat bayinya seperti kurang gizi untuk bayi usia seperti itu,” ungkapnya saat diwawancarai beraunews.com, Sabtu (6/8/2016).

Saat ini, baik BPPKB maupun P2TP2A belum memiliki shelter atau penampungan baik untuk perempuan maupun anak yang sedang dalam masalah sosial, sehingga gerak tangan dari Dinas Sosial (Dinsos) selaku pihak yang berwenang mengatasi problematika sosial masyarakat diperlukan dalam kasus ini.

Informasi sementara, pihak keluarga pelaku Cc akan menjemput si bayi untuk dirawat bersama orang tua pelaku Cc di Tarakan, namun hingga saat ini hal tersebut belum menemukan kepastian, baik dari pihak keluarga maupun Mapolsek Tanjung Redeb.

“Kalau memang nantinya bayi itu akan dibawa oleh keluarga ibunya ke Tarakan, kami akan terus koordinasikan baik dengan Polsek maupun dengan jaringan P2TP2A yang ada disana. Jangan sampai nanti kalau dibawa kesana malah tidak terurus dan sebagainya,” pungkasnya seraya mengatakan, karena hal-hal seperti ini adalah tugas dan kewajiban Dinsos, maka perlu ada perhatian ke depan kalau nantinya si bayi tidak diambil oleh pihak keluarga, sebab tidak mungkin bayi itu harus ikut bersama ibunya terus.(mta)