Listrik Berau Surplus, Benarkah?

TANJUNG REDEB – Listrik di Kabupaten Berau selalu menjadi perbincangan yang menarik di kalangan masyarakat. Tak sedikit masyarakat mempertanyakan berapa jumlah daya listrik di Bumi Batiwakkal ini, apakah lebih atau kurang.

Menjawab pertanyaan tersebut, Kepala Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) Berau, Mappasikra Mapaselleng mengatakan, dalam keadaan normal jika PLTU dan PLTD beroperasi, saat beban puncak di malam hari tidak ada wilayah yang mengalami pemadaman. Atas dasar ini, maka bisa dipastikan listrik di Berau mengalami surplus atau lebih, meskipun hanya sedikit.

“Kalau PLTU dan PLTD sama-sama beroperasi, daya PLN masih lebih 2 MW (megawatts). Lihat saja saat kedua pembangkit itu peroperasi dengan baik, maka semua bisa terlayani listrik, tidak ada yang dipadamkan. Jika memang defisit (kurang), maka saat beban puncak akan ada wilayah yang akan dipadamkan,” ungkapnya kepada beraunews.com baru-baru ini.

Dikatakannya, lain lagi halnya jika PLTU melakukan pemerliharaan boiler (mesin pembangkit). Satu unit saja boiler dilakukan pemeliharaan, maka dipastikan kebutuhan listrik akan berkurang atau tidak mencukupi.

“1 unit saja dilakukan pemeliharaan, bisa berkurang 5 MW, untuk mengakali itu, maka kita korbankan lampu Penerangan Jalan Umum (PJU) untuk dipadamkan agar masyarakat bisa terlayani,” terangnya.

Bukan hanya memadamkan lampu PJU, untuk memenuhi kebutuhan listrik masyarakat saat terjadi pemeliharaan, pihak perhotelan juga diminta untuk menggunakan pembangkit listrik sendiri atau genset.

“Itu ada perjanjian mereka agar hotel menggunakan genset mereka sendiri. Hal itu agar tidak mengorbankan tempat pelayanan masyarakat, seperti puskesmas dan rumah sakit,” pungkasnya.

Pernyataan Mappasikra ini sesuai dengan yang disampaikan Manajer Rayon Tanjung Redeb PT PLN Area Berau, Mufid Arianto dalam sesi tanya jawab dengan wartawan saat Komisi II DPRD Berau memediasi warga Berau yang menggelar aksi demo dengan manajemen PT PLN Area Berau, Selasa (11/8/2015) lalu.

Saat itu, Mufid mengatakan, daya listrik terpasang yang dimiliki pihaknya sebesar 21,8 MW yang bersumber dari PLTU Lati sebesar 21 MW namun dikontrak PLN hanya 15 MW, PLTD Sambaliung sebesar 1,2 MW dan sewa genset milik PT Kaltimex Energy sebesar 5,6 MW. Sedangkan beban puncak kurang lebih 20 MW.

“Artinya kalau dalam keadaan normal, kita masih surplus sekitar 2 MW, tetapi karena ada pemeliharaan di PLTU Lati, maka kita defisit (kekurangan) daya listrik 3 MW, bahkan kini terjadi gangguan satu mesin lagi di luar jadwal pemeliharaan, akibatnya terjadi defisit 10 MW, makanya kita lakukan pemadaman bergilir,” terangnya.

Kalau begitu, PLN sebagai satu-satunya perusahaan negara yang menguasai listrik berdasarkan Undang-Undang Nomor 30/2009 tentang ketenagalistrikan hanya berkontribusi 1,2 MW atau 5,5 persen saja. Lalu apa PLN berani buat komitmen tertulis sebagai wujud kesungguhan PLN agar Berau bebas energi listrik. Ditanya seperti itu, Mufid hanya bisa menjawab, pihaknya hanya berusaha maksimal saja, agar Berau bebas energi listrik. Kuncinya, Berau bebas listrik akan tercapai, jika PLTU Teluk Bayur dengan daya listrik 14 MW (2 x 7) bisa selesai Desember 2015 ini.

“Memang kami akui kami pernah molor berjanji terkait PLTU Teluk itu. Namun, itu diluar kendali kami. Terkait komitmen tertulis, itu bukan kewenangan saya, melainkan masih ada pimpinan yang saat ini berhalangan hadir karena mengurus tugas pemenuhan listrik di perbatasan,” tutupnya.(dws)