Penting Bagi Ibu Muda Atur Jarak Kehamilan

TANJUNG REDEB – Ledakan penduduk suatu daerah memang dipengaruhi berbagai faktor. Salah satunya, angka kelahiran yang tinggi. Akhir-akhir ini ada banyak pasangan yang memiliki banyak anak dengan jarak kelahiran yang terlampau dekat. Padahal jarak kehamilan yang kurang dari dua tahun akan berdampak buruk bagi kesehatan ibu dan anak. Seperti anak sering sakit dan fisik si ibu menjadi lemah hingga terjadinya kematian.

Kepala Badan Perlindungan Perempuan dan Keluarga Berencana (BPPKB) Berau, Wiyati mengatakan, para wanita yang sudah atau baru memulai hidup berumah tangga sangat penting untuk mengatur jarak kehamilan anak pertama dan anak kedua. Hal itu berguna untuk membentuk keluarga yang berkualitas.

Selain itu, hal itu juga demi kesehatan ibu dan anak ketika melahirkan. Setidak-tidaknya waktu kehamilan berjarak di atas dua tahun dari anak pertama. Namun, pihaknya menyarankan jarak ideal kehamilan adalah lima tahun.

"Karena idealnya ibu hamil itu di usia 25 tahun, lima tahun berikutnya tambah satu anak lagi dengan usia ibu ada 30 tahun. Jika ibu tersebut sudah berumur 30 tahun ke atas maka tidak ideal lagi untuk melahirkan, karena akan berdampak pada kesehatan ibu dan bayinya. Ini juga mendukung program KB. Tapi, jika kondisi ekonomi dan kesehatan ibu itu masih memungkinkan, itu bisa saja tergantung kemampuan si ibu. Tapi programnya kita adalah dua anak cukup," terangnya belum lama ini.

Dengan pengaturan jarak kehamilan lanjut dia, membantu mempersiapkan anak pertama untuk mendapatkan ASI selama 2-4 tahun, sehingga asupan gizi bagi tumbuh kembangnya tidak terganggu. Secara psikologis karena si bayi mendapatkan kasi sayang yang cukup dari orang tua selama kurang lebih empat tahun, maka dirinya sudah siap untuk menerima kehadiran adik baru.

"Ini juga membantu memberikan waktu yang cukup bagi orang tua dalam mempersiapkan kebutuhan secara ekonomi dan sosial dalam menyambut keluarga baru," bebernya.

Lantas bagaimana dengan banyaknya remaja yang akhir-akhir ini memilih jalur penikahan pasca lulus sekolah, ketimbang lanjut kuliah. Disampaikan Wiyati, hal itu memang sangat disayangkan karena memutus masa depan mereka. Namun, saat ini sudah ada Genre (generasi berencana) yang sekarang telah menyasar ke sekolah-sekolah, melalui PIK Remaja dengan memberikan pemahaman dengan teman sebayanya.

Genre sendiri dikatakannya, menyasar siswa yang berada di bangku SMP dan SMA, mereka diajarkan tentang kesehatan reproduksi karena alat reproduksi remaja perempuan masih belum siap untuk punya anak. Yang mana jika dipaksakan, akan berdampak pada ibu dan anak ketika melahirkan.

"Karena baik fisik maupun mental mereka juga belum siap. Pemerintah memberikan pemahaman dan advokasi melalui PIK remaja tentang pentingnya generasi berencana kepada remaja, dan menghindari seks bebas dimana akan mengakibatkan kehamilan di usia muda, dan itu berdampak serius pada kesehatan ibu dan anak yang dilahirkannya," tutupnya.(hir)