Upaya Pemenuhan Listrik Masyarakat, Pemkab Jajaki Peluang Excess Power PT DLJ

TANJUNG REDEB – Permasalahan krisis kelistrikan di Kecamatan Talisayan dan sekitarnya menjadi perhatian khusus Pemkab melalui Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben). Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kali kunjungan kerja Kepala Distamben, Mappasikra Mappaseleng ke wilayah pesisir selatan tersebut. Upaya pemenuhan listrik masyarakat dari perusahaan melalui pemanfaatan kelebihan tenaga listrik (excess power) yang dihasilkan perusahaan, menjadi salah satu opsi yang dapat dilakukan.

Seperti pada Sabtu (16/7/2016) kemarin, memanfaatkann hari libur kerja PNS, Mappasikra menyempatkan berkunjung ke pabrik kelapa sawit PT Dwiwira Lestari Jaya (DLJ) yang berada di Kecamatan Biatan. Rombongan diterima Mill Manager PT DLJ, Suman Pangaribuan.

Mappasikra menjelaskan, kunjungan tersebut dalam rangka penjajakan awal untuk kerjasama excess power yang dihasilkan perusahaan untuk dialirkan kemasyarakat melalui sistem PLN Sub Ranting Talisayan.

“Sehingga listrik di Kecamatan Talisayan dan sekitarnya yang saat ini kerap terjadi pemadaman dan baru beroperasi 12 jam diharapkan bisa lebih, bahkan kami harapkan bisa hingga 24 jam. Sehingga komunikasi awal untuk memulai kerjasama ini perlu dilakukan, agar semua bisa berjalan dengan baik. Dan ini merupakan tindaklanjut program Pemkab yang ingin di tahun 2018, seluruh daerah di Berau dapat teraliri listrik,” jelasnya.

Dari kunjungan ini, didapatkan informasi adanya excess power yang dihasilkan dari pembangkit Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT DLJ sekitar 400 kWh-500 kWh (kilowatt jam). Hal ini pun akan disampaikan dan menjadi bahan pembahasan bersama, dengan kepala daerah maupun dengan PT PLN, yang nantinya akan membeli daya listriknya.

“Sebab, untuk memanfaatkan excess power ini juga perlu dibangun jaringan dari pembangkit di perusahaan hingga ke sistem PLN Sub Ranting Talisayan. Jaringan yang perlu dibangun diperkirakan sekitar 9 kilometer,” jelasnya.

Kerjasama pemanfaatan energi listrik dari PKS ke masyarakat ini, dikatakan Mappasikra, telah diwujudkan di Talisayan dengan kerjasama PT Tanjung Buyu Perkasa (TBP) Plantation dan juga di Kecamatan Segah dengan PT Hutan Hijau Mas (HHM). Kerjasama ini disampaikannya turut mempercepat pemenuhan energi listrik masyarakat, khususnya di area operasional perusahaan perkebunan.

“Kita berharap perusahaan yang memiliki pabrik dengan pembangkit listrik berdaya besar bisa berbagi ke masyarakat sekitar melalui kerjasama excess power ini,” harapnya.

Sementara Mill Manager PT DLJ, Suman Pangaribuan menjelaskan, PT DLJ memiliki pembangkit listrik berkapasitas 1,8 MW (Megawatt), sedangkan untuk kegiatan produksi pabrik hanya membutuhkan daya listrik sebesar 1,1 MW.

“Power plant kami saat ini yang tersedia sekitar 1.800 kW, yang sedang kita gunakan adalah 1.100 kW sehingga masih ada spare sekitar 400 sampai 500 kW (kapasitas operasi 80-85 persen). Dengan TBS yang mencukupi, power plant kita bisa lebih untuk kita gunakan, misalnya ada keinginan dari Pemkab untuk memakai kelebihan kWh ini,” jelasnya.

Pihaknya juga telah memperhitungkan akses pembangunan jaringan dari pabrik ke sistem PLN, yang jika melalui jalan yang ada berkisar 9 kilometer. Namun, dengan jumlah Tandan Buah Sawit (TBS) yang masuk ke pabrik per harinya hanya sekitar 300 hingga 400 ton, dinilai belum sepenuhnya mampu mendukung terlaksananya kerja sama excess power tersebut.

“TBS kita saat ini masih sekitar 300 sampai 400 ton. Jadi, kita hanya cukup untuk kalangan sendiri dan belum bisa kita berikan untuk ke luar. Mungkin TBS sekitar 700 sampai 800 per hari, kita sudah bisa menyediakan itu (excess power-red),” pungkasnya.(sai)