Ini Penyebab Byar Pet Yang Sesungguhnya

TANJUNG REDEB – Silang pendapat bukan hanya terjadi antara PT Indo Pusaka Berau (IPB) dengan PT Berau Coal, namun juga terjadi antara PT IPB dengan PT PLN Area Berau. Pemicunya, kerja sama yang tak berjalan dengan baik. Hal tersebut diungkapkan langsung oleh Direktur Utama PT IPB, Najamuddin kepada beraunews.com.

Dikatakannya, selama ini banyak kesepakatan yang dilanggar pihak PLN hingga mengakibatkan kerugian bagi masyarakat maupun pihak PT IPB sendiri. Misalnya saja, PLTU dipaksa beroperasi pada kapasitas maksimum atau selalu 100 persen. Artinya, PLTU lah yang bertanggung jawab penuh terhadap pemenuhan listrik masyarakat Berau. Sementara, tanggung jawab itu hakikatnya milik PLN. Padahal selama ini, PLTU sifatnya hanya kerja sama jual listrik ke PLN.

“Umur ekonomis mesin kita 20 tahun, dengan kapasitas operasi unit hanya 80 persen, tapi faktanya dari awal dibangun, pemakaian mesin kita 100 persen. Saat ini, umur mesin kita sudah 13 tahun, berarti umur ekonomis kita tinggal 2 tahun lagi kemampuan maksimalnya,” ungkapnya kepada beraunews.com.

Apalagi, kata Najamuddin, sesuai kesepakatan pihaknya dengan PLN, saat terjadi pemeliharaan di PLTU, PLN berkewajiban menyediakan listrik sesuai kapasitas mesin yang dirawat. Tapi faktanya, kesepakatan itu tak berlaku sama sekali. Jika saja kesepakatan itu, berjalan dengan baik, maka seharusnya tak akan terjadi pemadaman bergilir sama sekali.

“Kita punya 3 unit mesin dengan kapasitas masing-masing 1 x 7 MW (megawatts-red). Makanya, kita jualan ke PLN sebesar 21 MW. Nah, kalau kita pemeliharaan 1 unit, seharusnya 7 MW yang hilang menjadi tanggung jawab PLN, tapi nyatanya selama ini PLN lepas tangan terus. Akibatnya, untuk memenuhi kebutuhan masyarakat itu, PLN  menyiasatinya dengan pemadaman bergilir. Parahnya lagi, ketika pemadaman bergilir terjadi, PLN selalu mengatakan sedang perawatan di PLTU Lati, dampaknya jelas, masyarakat atau pejabat jadinya menyalahkan PLTU. PLTU lagi yang di maki-maki,” bebernya.

Ditambahkannya, seharusnya solusi dari pemeliharaan unit di PLTU itu, PLN harusnya membeli mesin cadangan agar tidak terjadi pemadaman bergilir, apalagi itu telah menjadi tanggung jawab PLN. Memang saat ini, pihaknya tengah menambah 1 unit mesin dengan kapasitas 7 MW, tetapi diyakini kapasitasnya tak akan mampu bertahan lama memenuhi kebutuhan listrik masyarakat Berau, mengingat daftar tunggu pelanggan PLN sudah mencapai 9 MW. 

“Kesimpulannya, saat PLTU melakukan pemeliharaan, seharunya tidak akan terjadi pemadaman bergilir jika saja PLN mau membeli mesin. Kurang bagaimana lagi PLN itu, kita sudah bangunkan jaringan sepanjang hampir 120 Km yang semestinya  tanggung jawab PLN. Jadwal perawatan mesin juga sudah kita susunkan untuk jangka waktu lima tahun ke depan dan PLN tahu itu. Pertanyaanya kenapa mereka tidak mau beli mesin? Padahal itu tanggung jawab mereka loh. Bahkan, jika 1 unit mesin kita beroperasi pasti langsung habis lagi kapasitas dayanya. Akibatnya, kita kembali begini lagi. Mati lampu terus,” bebernya.

Selain itu, selama ini PT IPB juga kerap membayar denda ke PLN akibat turunnya suplai listrik di luar jadwal pemeliharaan rutin yang ditentukan.

“Tegangan listrik turun kita kena denda, di bawah suplai kita juga didenda, pokoknya ada dendanya terus. Nah jika demikian, kenapa PLN tidak membeli solar dari uang denda itu guna memenuhi tanggung jawabnya menyediakan listrik ketika pemeliharaan rutin terjadi. Tapi kalau mereka beli solar mesinya mana, PLN tidak punya mesin,” sindirnya.(msz)